Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rangkaian Miyos Gongso Sekaten Keraton Jogja

Administrator • Senin, 29 Desember 2014 | 16:23 WIB
SEKATEN. Tak hanya tradisi, kepentingan ekonomi juga semakin menonjol seperti tarif parkir.
SEKATEN. Tak hanya tradisi, kepentingan ekonomi juga semakin menonjol seperti tarif parkir.
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GAMELAN PUSAKA: Pengunjung melihat dan mendengarkan gamelan Keraton Jogja saat ditabuh di Bangsal Ponconiti, kemarin.

Malam Berebut Udik-Udik, Siang Dengarkan Gamelan


JOGJA - Hujan yang turun sejak pagi hari kemarin (28/12), tidak menyurutkan antusi-asme warga Jogja dan sekitarnya untuk men-datangi Bangsal Ponconiti, Keraton Jogja, kemarin (27/12). Mereka sengaja datang un-tuk mendengarkan suara gamelan pusaka, Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga.Dua gamelan itu dibunyikan setiap hari dari siang hingga malam, setelah Sabtu malam (27/12) sebelumnya resmi dikelu-arkan dari Keraton Jogja melalui prosesi Miyos Gongso. Dalam rangakaian acara ini, Keraton Jogja juga menyebar udik-udik
Udik-udik sendiri berupa pecahan uang logam beserta bunga. Tepat pukul 20.00 WIB, perwakilan Keraton Jogja, ya-kni GBPH Yudhaningrat dan GBPH Prabukusumo keluar dan langsung menyebar udik-udik. Tidak hanya masyarakat umum, para abdi dalem kera-ton sendiri juga banyak yang berebut.
Menurut salah seorang abdi dalem keraton KRT Wijoyo Pamungkas, udik-udik itu merupakan bentuk perhatian dan kemurahan seorang raja kepada rakyatnya. "Kalau dalam Islam dinamakan sodakoh," ujarnya.
Oleh karena itu, penyebaran udik-udik sudah dinanti masy-arakat. Kondisi itu, lanjut dia, juga menunjukkan masih dite-rimanya budaya Jawa di tengah masyarakat. KRT Wijoyo Pamun-gkas menerangkan, dulunya permainan gamelan ini sebagai tanda untuk memanggil masy-arakat dan dipermainkan di luar masjid. Dua gamelan pusaka keraton dibawa oleh para abdi dalem ke halaman Masjid Gede Kau-man. Selama seminggu, dua gamelan itu berada di sana dan dimainkan saat siang hingga malam. "Biasanya masyarakat kemu-dian mendengarkan gamelan itu dengan mengunyah sirih dan makan nasi gurih," terang-nya.
Setelah seminggu, dua ga-melan itu akan dibawa kem-bali masuk ke Keraton Jogja, dan keesokan harinya digelar Garebeg Mulud. Garebeg Mu-lud ditandai dengan keluarnya gunungan yang berisi ubo rampe, di antaranya berupa hasil bumi, untuk diperebutkan kepada masyarakat umum. (pra/laz/jiong) Editor : Administrator