Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menyaksikan Ketoprak Ringkes Tjap Tjonthong

Administrator • Minggu, 28 Desember 2014 | 12:37 WIB
Photo
Photo
FOTO-FOTO: DWI AGUS/RADAR JOGJA
OBAT KANGEN: Pertunjukan ketoprak apik dan cerdas kembali disuguhkan oleh Ketoprak Ringkes Tjap Tjonthong. Pada pementasan yang dilakukan selama dua hari hadir pula Soimah Pancawati.

Strategi Menghindari Politik Romusha


JOGJA – Pertunjukan ketoprak apik nan cerdas kembali disu-guhkan oleh Ketoprak Ringkes Tjap Tjonthong. Bertempat di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dengan mem-bawakan lakon Opak Progo Wis Nyawiji. Seperti biasa pemen-tasan ini dikemas dalam dua kali pementasan, Jumat malam (26/12) dan Sabtu malam (27/12).
Lakon kali ini mengambil latar belakang penjajahan Jepang di Jogjakarta. Tepatnya sebelum In-donesia memasuki masa kemer-dekaan. Lakon ini menggambarkan usaha Raja Jogjakarta, kala itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dalam mengantisipasi romusha. "Di berbagai daerah Indonesia pada waktu itu sedang gencar romusha atau kerja paksa. Se-dangkan Ngarso Ndalem HB IX tidak ingin rakyatnya sengsara. Akhirnya disusunlah sebuah strategi khusus agar tidak ada romusha di Jogjakarta," kata Sutradara Pementasan Susilo Nugroho, Jumat (26/12) lalu.
Strategi ini adalah pembangu-nan selokan Mataram yang me-nyambungkan Sungai Opak dan Sungai Progo. Tujuannya me-majukan dunia agraris di Jogja-karta. Strategi yang disusun adalah ketika pertanian maju, maka Jogjakarta siap memban-tu Jepang menaklukan Asia.Rencana ini tentunya disetujui oleh Jepang pada waktu itu. Se-hingga ragam bantuan diberikan langsung oleh Jepang kepada HB IX. Sang Raja bertitah agar rakyatnya mau membangun tembusan antara sungai Progo hingga sungai Opak.
Digambarkan dalam cerita, ra-kyat Jogjakarta suka cita menyam-but keputusan ini. Selain terhindar dari Romusha juga merupakan pertanda kemakmuran. Ini karena ada pemikiran ketika Sungai Progo dan Opak telah bersatu maka merupakan pertanda kemakmuran. "Tepat setelah selokan ini selesai dibangun Indonesia merdeka. Hingga saat ini selokan Mataram benar-benar bermanfaat bagi ma-syarakat Jogjakarta," kata Susilo.
Di awal cerita, Lurah Talpaka yang diperankan oleh Susilo Nugroho justru bertindak lain. Dirinya memaksa dan mewajib-kan warganya ikut romusha. Ini tentunya menjadi pertentangan di kalangan rakyatnya. Usaha pemberontakan hingga perebu-tan kekuasaan pun terjadi.Terlebih ada ambisi Nindita yang diperankan oleh Marwoto untuk menjadi lurah pengganti. Berba-gai upaya dilakukan termasuk dengan menutupi jumlah suara rakyat. Gagal terpilih, dirinya me-milih untuk berkuasa dalam Ba-dan Permusyawaratan Desa.
Cerita ini mirip dengan peta perpolitikan di Indonesia belum lama ini. Susilo dengan tegas mengungkapkan memang kon-disinya saat ini seperti terpecah. Karena ada perang kepentingan golongan yang lebih penting daripada kepentingan rakyat. "Kita hanya mengangkat feno-mena yang terjadi di lingkungan kita. Ini semacam dagelan juga karena patut ditertawakan. Se-harusnya memasuki masa ke-makmuran tapi tidak terasa," kata Susilo.
Dalam pementasan ini turut hadir pula Soimah Pancawati. Kehadirannya seakan menjadi penantian para pecinta ketoprak. Soimah sendiri mengaku senang bisa ikut dalam pementasan ini. Bahkan sesekali dirinya ikut tertawa ketika memainkan se-buah adegan bersama Marwoto. "Mengobati kangen bertemu teman-teman di Jogjakarta. Bisa ikut ke-toprak ini suatu hal yang sangat nanti. Bentuk-bentuk dagelan yang tidak saya temukan di Jakarta," kata Soimah. (dwi/ila/ong) Editor : Administrator