Sejarah Gereja Katolik Tertua: Gereja Bintaran yang Jadi Saksi Perjuangan Kemerdekaan 

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 07:52 WIB
Gereja Katolik Santo Yusup, St Joseph Catholic Church, Bintaran. (Gmaps)
Gereja Katolik Santo Yusup, St Joseph Catholic Church, Bintaran. (Gmaps)

 

RADAR JOGJA - Gereja Katolik Santo Yusup Bintaran, di Jalan Bintaran Kidul Nomor 5, Mergangsan, Kota Jogja diresmikan tahun 1934 oleh Romo A.TH. Van Hoof SJ.

Tapi status pertamanya bukan soal siapa yang lebih dulu berdiri di Jogja, melainkan siapa yang boleh beribadah di dalamnya.

Sekretaris Kantor Paroki Bintaran, Kris Indrarto Nurcahyo, menjelaskan, di masa penjajahan Belanda ada diskriminasi tegas antara jemaat Belanda dan pribumi.

Bahkan sampai soal tempat ibadah pun dipisah.

Gereja Bintaran lahir sebagai jawaban atas pemisahan itu, dirancang khusus menjadi ruang ibadah bagi umat Katolik Jawa.

Baca Juga: Kebakaran Hutan di Kalimantan Sebabkan Asap Pekat Memenuhi Jalanan

Arsitekturnya sendiri tetap kental gaya Belanda, hasil rancangan J.H. van Oijen B.N.A, dengan bangunan awal berukuran 36 meter sampai bangku komuni, dan lebar keseluruhan 20 meter.

Yang membuat gereja ini makin istimewa adalah bentuk bangunannya disebut satu-satunya yang ada di Indonesia, karena desain serupa cuma bisa ditemukan di Belanda.

Di balik arsitekturnya yang megah, gereja ini juga jadi saksi bisu dua momen krusial sejarah kemerdekaan Indonesia.

Tahun 1947, saat Soekarno diasingkan ke Bangka, istrinya, Fatmawati, sempat diungsikan ke gereja ini untuk melindunginya dari serdadu Belanda.

Baca Juga: Trotoar Dirusak, Kabel Fiber Optik Dicuri, Kali Keempat Terjadi di Kota Jogja selama 2026

Setahun berselang, saat Agresi Militer Belanda II pecah Desember 1948, gereja ini jadi titik komunikasi rahasia antara Romo Albertus Soegijapranata dengan para gerilyawan Indonesia.

Soegijapranata sendiri, yang kelak jadi uskup pribumi pertama Indonesia, sebenarnya berkedudukan di Semarang.

Tapi begitu ibu kota RI sempat pindah ke Jogja, ia memilih tinggal di Bintaran demi ikut membantu perjuangan pemerintah Indonesia secara langsung.

Jejak sejarah gereja ini bahkan bisa ditelusuri lebih jauh lagi lewat satu benda yang masih tersimpan rapi sampai sekarang yaitu buku baptis tahun 1896.

Baca Juga: 65 Ton Logistik Tambahan Dikirim ke NTT, Total Bantuan Capai 253 Ton

Artinya, komunitas Katolik di Bintaran sudah eksis puluhan tahun sebelum gedung gerejanya sendiri berdiri, dan area layanannya dulu bahkan sampai menjangkau umat dari Purworejo, yang catatan baptisnya ikut tercatat di buku yang sama.

Kini gereja ini tetap terbuka untuk warga sekitar, sering dipinjamkan jadi tempat pengungsian saat banjir, sampai lokasi persemayaman jenazah bagi warga yang tidak mampu menyewa tempat lain.

Sempat rusak akibat gempa 2006, arsitektur asli Gereja Bintaran tetap terjaga sampai sekarang, dan statusnya sebagai cagar budaya resmi dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata jadi bukti, bangunan ini bukan cuma tempat ibadah, tapi juga catatan hidup soal perjuangan melawan diskriminasi dan perjalanan panjang menuju kemerdekaan.

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
Sejarah Gereja Katolik Tertua Kantor Paroki Bintaran Kota Jogja sejarah Gereja Bintaran