Di balik sejarah panjang perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Jogjakarta, tersimpan kisah heroik dari pergerakan pemuda berbasis kampung. Salah satu rekam jejak datang dari Kesatuan Pemuda-Pemudi Pujokusuman (KP3), wadah perjuangan lokal yang merupakan embrio dari pasukan gerilya legendaris Pasukan Samber Gelap yang kemudian dikenal luas sebagai Pasukan Hantu Maut.
Pegiat Budaya Pujokusuman Danang Rusmandoko mengungkapkan, pembentukan KP3 menjadi tonggak awal konsolidasi pemuda di kawasan Kampung Pujokusuman dalam merespons dinamika pasca-Proklamasi Kemerdekaan 1945. Adapun KP3 resmi berdiri pada 23 Desember 1945 dengan markas utama berpusat di Ndalem Pujokusuman.
Menariknya, modal perlawanan awal pasukan ini bertumpu pada tujuh pucuk senjata yang didapatkan dari peristiwa bersejarah Pertempuran Kotabaru, 7 Oktober 1945. Senjata hasil pelucutan tentara Jepang disimpan dan dirawat oleh warga Kampung Pujokusuman sebagai modal awal perlawanan daerah.
Baca Juga: Masyarakat Tak Hanya Jadi Penonton, 1.000 Orang Usung Merah Putih Sepanjang 481 Meter di Malioboro
Perlawanan pemuda Pujokusuman kian membara saat meletusnya Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947. Di tengah ancaman dan tekanan militer musuh, para pemuda KP3 justru melakukan aksi nekat dengan mendirikan tugu peringatan tepat di tengah Pasar Pujokusuman. Tugu itu membubuhkan tulisan tegas HUT Peringatan Kedua Republik Indonesia.
Menurut Danang, keberadaan tugu itu membuat Belanda meningkatkan pengawasan secara ekstra ketat terhadap kawasan Kampung Pujokusuman karena mencurigai wilayah pemukiman itu menjadi markas gerilyawan republik. Melihat tekanan yang kian ketat, sebanyak 30 pemuda pengurus Pujokusuman mengikrarkan janji setia untuk siap mengangkat senjata apabila Belanda kembali melakukan serangan terbuka.
Janji itu dibuktikan saat Agresi Militer Belanda II meletus pada 19 Desember 1948. Para pemuda Pujokusuman langsung bergerak keluar dari kampungnya untuk melancarkan perang gerilya di bawah nama Pasukan Samber Gelap.
Baca Juga: Kenapa Saat Upacara Bendera Ada yang Berdiri dan Ada yang Diperbolehkan Duduk?
Barisan pertahanan kemudian meluas karena ada konsolidasi dengan para pemuda dari kampung-kampung sekitar seperti Keparakan hingga Prawirotaman. Kekuatan lintas kampung yang melebur kemudian melahirkan barisan tempur gerilya yang solid dan sangat ditakuti oleh pasukan Belanda dengan julukan Pasukan Hantu Maut. "Pasukan Hantu Maut inti anggotanya dari KP3, ditambah personel dari kampung kiri kanan Pujokusuman,” jelas Danang.
Ia menyatakan, bagi warga, Ndalem Pujokusuman bukan sekadar bangunan cagar budaya biasa. Namun juga menyimpan rekam jejak herois para pemuda yang tergabung dalam Pasukan Hantu Maut saat mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada era Agresi Militer Belanda II tahun 1948.
Danang mengungkapkan, Ndalem Pujokusuman memegang peranan yang sangat vital dalam peta perjuangan kemerdekaan di Jogjakarta. Tempat tersebut berfungsi sebagai pusat koordinasi pemuda, markas Pasukan Hantu Maut, tempat pengungsian warga, hingga gudang rahasia penyimpanan senjata.
Baca Juga: Inovasi Komunitas SkeNU Jogja: Sulap Catatan Ngaji Jadi Buku Panduan Shalat 'Teknologi Diri'
"Pasukan Hantu Maut itu bergerak bukan untuk merebut kemerdekaan, tetapi untuk mempertahankan kemerdekaan di era Agresi Militer II tahun 1948," beber Danang.
Lebih lanjut ia menyatakan, keterlibatan Pangeran Pujokusumo yang merupakan adik Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi simpul penting perjuangan di Kampung Pujokusuman. Pangeran Pujokusumo kala itu rela menjual pendok atau ornamen emas pelapis sarung keris pribadinya untuk membiayai logistik selama perlawanan agresi militer Belanda.
Danang melanjutkan, Ndalem Pujokusuman juga menjadi benteng perlindungan saat terjadi aksi pembersihan oleh tentara Belanda di Kampung Keparakan Lor, buntut dari tewasnya serdadu Belanda di area Tamansiswa. Belanda yang cenderung segan terhadap kerabat Sultan, membuat warga merasa aman mengungsi di area ndalem.
Baca Juga: Dua Bulan Kejar Hafalan Ayat Suci Hingga Sempat Frustrasi, Balada Pemain Film Munafik: Melawan Iblis
Tak hanya itu, Belanda yang sempat menggeledah Ndalem Pujokusuman juga gagal menemukan tempat penyimpanan senjata utama. Senjata-senjata milik Pasukan Hantu Maut disembunyikan secara rapi di bagian atas atap pendopo. Penggeledahan Belanda yang tidak menyisir area atap membuat rahasia tersebut aman, meskipun Pangeran Pujokusumo tetap ditangkap Belanda.
Danang menegaskan, pengurus kampung juga terus berupaya untuk mempertahankan sejarah perjuangan di Kampung Pujokusuman. Misalnya lewat penulisan buku aksara Jawa yang berisi sejarah pertempuran Pasukan Hantu Maut. Lalu, juga menamai kelompok panahan tradisional di tingkat RT dengan nama Jemparingan Hantu Maut.
Baca Juga: Hari Jadi Ke-81 Jateng: Berkat Program Speling, Jarak Tak Lagi Bikin Pusing
Di samping itu, kampung juga mengembangkan wisata edukasi walking tour yang menerima kunjungan wisatawan dan pegiat sejarah untuk mengenalkan situs Ndalem Pujokusuman dari perspektif cerita tutur warga setempat.
"Kami menceritakannya dari sudut pandang masyarakat dan kearifan lokal, bukan dari sudut pandang sejarawan formal. Yang terpenting, cerita turun-temurun ini tetap hidup dan tidak hilang ditelan zaman," tegas Danang. (inu/laz)
Editor : Heru Pratomo