DI tengah gempuran hiburan modern, kesenian tradisional Srandul masih bertahan sebagai warisan budaya yang sarat nilai religius dan pendidikan. Namun, regenerasi pemain menjadi tantangan terbesar. Pelaku seni kini harus bekerja ekstra agar kesenian yang memadukan tari, tembang, dialog, hingga musik gamelan itu tidak hilang ditelan zaman.
Pegiat kesenian Srandul Basiran Basis Hargito mengatakan, Srandul merupakan kesenian rakyat yang sejak awal berkembang sebagai media hiburan sekaligus dakwah. Hal itu tercermin dari syair-syair yang banyak mengandung unsur keislaman, bahkan sebagian menggunakan bahasa Arab.
"Dulu masyarakat mungkin tidak begitu memahami artinya, tetapi nilai yang disampaikan tetap sampai kepada penonton," ujarnya saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Kotagede, Kamis (23/7).
Baca Juga: Kelompencapir di Masa Pemerintahann Orde Baru, Jadi Sekolah Lapangan bagi Petani
Berbeda dengan kesenian tradisional lain, pemain Srandul dituntut menguasai banyak kemampuan sekaligus. Mereka tidak hanya menari, tetapi juga harus mampu berdialog, menyanyikan tembang, hingga memainkan gamelan.
Pada masa lalu, pertunjukan Srandul digelar di halaman rumah warga saat malam hari dengan penerangan obor atau oncor karena belum tersedia listrik. Seluruh pemeran juga dimainkan laki-laki, termasuk tokoh perempuan.
Sebelum cerita utama dimulai, pementasan diawali enam tarian pembuka. Setelah itu, pertunjukan dilanjutkan dengan lakon yang banyak mengangkat kisah-kisah bernuansa sejarah dan keagamaan, seperti Babat Mesir dan Babat Arab. "Itu sebenarnya pendidikan. Banyak sekali pesan moral yang disampaikan melalui cerita," jelas Basiran.
Dalam bentuk lengkap, pementasan Srandul dapat berlangsung hingga empat jam. Sementara versi singkat biasanya berdurasi sekitar 30 menit hingga satu jam menyesuaikan kebutuhan acara.
Seiring perkembangan zaman, Srandul juga mengalami penyesuaian. Selain mempertahankan bentuk tradisional, kini hadir Srandul modern yang menghadirkan cerita baru tanpa menghilangkan unsur utama berupa syair, musik, dan karakter pertunjukan.
"Yang penting ruh Srandul tetap ada. Tetapi ceritanya bisa disesuaikan dengan kondisi sekarang agar tidak monoton," katanya.
Meski demikian, persoalan regenerasi menjadi tantangan paling berat. Basiran mengakui semakin sulit mencari pemain yang bersedia mempelajari seluruh unsur pertunjukan. "Sekarang mencari pemain itu susah. Padahal harus belajar menari, dialog, sekaligus memainkan gamelan," ujarnya.
Baca Juga: Diskominfo DIY Kenang Kelompencapir, Program Ikonik Era Orde Baru yang Melekat di Ingatan
Sementara itu, Ketua Kelompok Srandul Purbabudaya Eko Pamilu Hono mengatakan, kelompoknya hingga kini masih aktif berlatih secara rutin setiap bulan di Balai RW maupun Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bumen, Purbayan, Kotagede, Jogja.
Kelompok ini berada di bawah Kalurahan Purbayan dengan mayoritas anggota berasal dari Padukuhan Bumen. Saat ini jumlah personelnya sekitar 45 orang, mulai anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga warga lanjut usia. "Sebagian besar belajar secara otodidak. Kalau menjelang pentas, biasanya latihan kami tambah lebih intensif," katanya.
Dulu, kata dia, kelompok Srandul Purbabudaya rutin tampil dalam berbagai agenda kebudayaan. Misalnya Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY), Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS), hingga Pasar Kangen Taman Budaya Yogyakarta (TBY). (cin/laz)
Editor : Herpri KartunSumber : Radar Jogja