Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Rumah Masa Kecil Ibu Fatmawati di Bengkulu, Tempat Lahir, Bertemu Bung Karno, hingga Jadi Museum

Fahmi Fahriza • Kamis, 11 Juni 2026 | 19:29 WIB
rumah Fatmawati di Bengkulu
rumah Fatmawati di Bengkulu
 
 
Rumah ibu negara pertama Indonesia, Fatmawati di Bengkulu kini difungsikan sebagai museum itu menyimpan berbagai peninggalan bersejarah, termasuk mesin jahit yang digunakan Fatmawati untuk menjahit bendera Merah Putih yang kemudian dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
 
Sepupu kandung Fatmawati sekaligus pengawas rumah museum Marwan Amanadin mengatakan,  bangunan tersebut merupakan rumah asli tempat kelahiran Fatmawati yang lahir pada 1923.
 
"Bapak saya dengan Bapak Fatmawati saudara kandung. Dan rumah Fatmawati ini dari dulu sampai sekarang bentuknya kayak gini, tapi ini sudah renovasi," ujarnya, Kamis (11/6).
 
 
Menurut Marwan, rumah tersebut dahulu merupakan tempat tinggal Fatmawati bersama kedua orang tuanya sebelum menikah dengan Presiden pertama RI, Soekarno, pada 1943. Setelah pernikahan itu, Fatmawati ikut pindah ke Jakarta dan rumah tersebut kemudian ditinggali kerabat keluarga.
 
"Dia lahir di rumah di sini sampai nikah dengan Bung Karno. Habis nikah langsung dibawa ke Jakarta," katanya.
 
Rumah yang berlokasi di Jalan Fatmawati No 10, Bengkulu itu menyimpan sejumlah koleksi yang berkaitan dengan kehidupan Fatmawati. Selain foto-foto dokumentasi, terdapat kebaya, jilbab, buku-buku koleksi pribadi, hingga ranjang tidur peninggalan keluarga. 
 
 
Salah satu koleksi yang paling menarik perhatian pengunjung adalah mesin jahit asli yang digunakan Fatmawati untuk menjahit bendera Merah Putih.
 
"Nah, mesin jahit itu sebenarnya jahit benderanya di Jakarta. Tapi karena rumah ini dijadikan museum, jadi dibawa ke sini. Itu mesin asli," ujar Marwan.
 
Ia menjelaskan bangunan rumah telah beberapa kali direnovasi untuk menjaga kelestariannya, namun bentuk dasar rumah tetap dipertahankan. Museum tersebut kini dibuka untuk umum dan berada di bawah pengawasan pemerintah daerah.
 
 
Selain menyimpan berbagai peninggalan sejarah, rumah ini juga menjadi saksi perjalanan hidup Fatmawati sebelum bertemu dengan Soekarno saat masa pengasingannya di Bengkulu pada 1938-1942.
 
Marwan menuturkan, Fatmawati dikenal sebagai sosok yang aktif dan memiliki kepedulian sosial tinggi sejak usia muda. Karakter tersebut tumbuh dari lingkungan keluarga yang dekat dengan gerakan kemasyarakatan dan pendidikan.
 
"Kalau saya nilai, baik-baik lah. Orang yang terhormat begitu. Jadi dia dengan masyarakat itu nggak sombong, merakyat lah dia," katanya.
 
 
Sementara itu, anggota Komisi A DPRD DIJ Sofyan Setyo Darmawan, menilai kunjungan ke rumah kelahiran Fatmawati memberikan pelajaran penting mengenai peran perempuan dalam perjuangan bangsa.
 
"Saya kira kita semakin mengenali sejarah perjuangan bangsa. Sosok Bu Fatmawati yang ternyata sejak remaja aktivis, punya kepedulian sosial yang tinggi, kepedulian atas kemerdekaan," ujarnya.
 
Menurut Sofyan, semangat perjuangan Fatmawati relevan untuk diteladani generasi muda saat ini. Ia menilai Fatmawati tidak hanya berperan sebagai pendamping Presiden Soekarno, tetapi juga memiliki karakter kuat yang terbentuk sejak masa remaja.
 
 
"Bu Fatmawati perlu menjadi contoh, remaja juga ternyata sudah sejak kecil punya visi perjuangan, visi pergerakan. Yang kedua tentu bagi para ibu yang kemudian mendampingi suaminya dengan setia dalam perjuangan," ulasnya.
 
Ia berharap nilai-nilai perjuangan, keteladanan, dan nasionalisme yang diwariskan Fatmawati dapat terus dikenalkan kepada masyarakat melalui situs-situs sejarah seperti rumah kelahirannya di Bengkulu.
 
"Jadi pahit getirnya saya kira itu inspirasi yang dapat kita ambil dari Bu Fatmawati," tandasnya. (iza)
 
 
Editor : Heru Pratomo
#fatmawati #bengkulu #bendera merah putih #ibu negara #soekarno