Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengulik di Balik Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, Sejarah dan

Meitika Candra Lantiva • Selasa, 19 Mei 2026 | 17:41 WIB
Moment seorang pria berpeci putih menunjukkan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. (AI Generated)
Moment seorang pria berpeci putih menunjukkan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. (AI Generated)

 

 

RADAR JOGJA - Tanggal 20 Mei menjadi momentum penting bagi bangsa Indonesia.

Pada tanggal tersebut, menjadi tonggak sejarah lahirnya semangat persatuan dan perjuangan bangsa Indonesia.

Yaitu Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

Peringatan ini merujuk pada berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908.

Momentum ini biasanya diperingati dengan upacara bendera, kegiatan edukasi hingga aksi nasionalisme, baik dari sekolah, instansi pemerintah, maupun komunitas dan masyarakat umum.

Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah refleksi atas titik balik struktural dalam sejarah perjuangan bangsa. 

Baca Juga: Bantuan Sarpras Budidaya Ikan Sistem Bioflok Digelontorkan Sasar 50 Titik di Kulon Progo

Sejarah Harkitnas

Di tanggal inilah, pada tahun 1908, sebuah organisasi bernama Budi Utomo lahir di Batavia (kini Jakarta), menandai bergesernya strategi perjuangan dari yang semula bersifat kedaerahan dan mengandalkan kekuatan fisik, menjadi perjuangan modern yang terorganisasi, intelektual, dan bersifat nasional.

Bagaimana organisasi yang awalnya didirikan oleh para mahasiswa kedokteran Jawa ini mampu menjadi pemantik kesadaran nasional?

Akar Sejarah: Geliat STOVIA dan Lahirnya Budi Utomo

Memasuki abad ke-20, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menerapkan Politik Etis (Politik Balas Budi) yang membuka akses pendidikan barat bagi kaum bumiputera, meskipun masih sangat terbatas.

Baca Juga: Pemkal Palihan Minta Percepat Penggantian TKD, Pergub Baru Bukan Menjadi Kendala

Salah satu lembaga pendidikan yang menjadi tempat persemaian ide-ide modern adalah School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), sekolah dokter bumiputera di Batavia.

Peran Dr Wahidin Sudirohusodo


Gagasan berdirinya Budi Utomo tidak lepas dari sosok Dr Wahidin Sudirohusodo. Sebagai alumnus STOVIA, ia prihatin melihat banyak pemuda cerdas bumiputera yang tidak dapat melanjutkan sekolah karena kendala biaya.

Dr Wahidin kemudian berkeliling Pulau Jawa untuk mengampanyekan studiefonds (dana pendidikan).

Pada akhir tahun 1907, Dr Wahidin mengunjungi STOVIA dan bertemu dengan para mahasiswa di sana.

Pidatonya tentang pentingnya pendidikan untuk mengangkat martabat bangsa menggetarkan hati para mahasiswa muda, terutama Soetomo.

Baca Juga: Dua Kader Berebut Kursi Presiden Brajamusti, Siap Jaga Marwah Organisasi dan Semangat Mataram Is Love

Pendirian 20 Mei 1908


Terinspirasi oleh pemikiran Dr Wahidin, Soetomo dan rekan-rekannya sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang lebih permanen. Pada hari Rabu, 20 Mei 1908, pukul 09.00 pagi, bertempat di ruang anatomi STOVIA, mereka mendeklarasikan berdirinya Boedi Oetomo (Budi Utomo).

Nama ini diusulkan oleh Soeradji, yang berarti "perbuatan atau budi pekerti yang utama/mulia".

Mengenal Lebih Dalam Para Pendiri Budi Utomo


Budi Utomo didirikan oleh sembilan mahasiswa STOVIA yang memiliki visi jauh melampaui zamannya. Berikut adalah para tokoh kunci tersebut:

Dr. Soetomo (Ketua): Bernama asli Subroto, ia adalah orator dan penggerak utama. Di masa depan, ia terus konsisten dalam pergerakan nasional melalui keaktifannya di berbagai organisasi seperti Indonesische Studieclub.

Soelaiman: Wakil Ketua awal yang membantu Soetomo merumuskan dasar-dasar organisasi.

Gondo Soewarno: Menjabat sebagai Sekretaris I, salah satu pemikir administratif organisasi.

Goenawan Mangoenkoesoemo: Sekretaris II, yang kemudian dikenal sebagai tokoh pergerakan yang radikal dan kritis terhadap Belanda bersama saudaranya, Tjipto Mangoenkoesoemo.

Baca Juga: Aktivis JCW Gelar Teaterikal di Stadion Mandala Krida: Pertanyakan Nasib Kandang PSIM Jogja

R Angka Prodjosoedirdjo: Bendahara organisasi yang memastikan keberlangsungan finansial awal Budi Utomo.

Soeradji Tirtonegoro: Tokoh yang mengusulkan nama "Budi Utomo" setelah terinspirasi dari ucapan Soetomo tentang "budi yang utama".

M Soewarno, Mohammad Saleh, dan R Mas Goembrek: Anggota pendiri yang aktif menyebarkan gagasan organisasi ke sekolah-sekolah lain di Batavia.

Catatan Sejarah: Pada awal berdiri, orientasi Budi Utomo masih terbatas pada penduduk Jawa dan Madura, dengan fokus pada bidang pendidikan dan kebudayaan, bukan politik praktis.

Hal ini dilakukan secara taktis agar tidak langsung dibubarkan oleh pemerintah kolonial Belanda yang sangat sensitif terhadap gerakan politik.

Baca Juga: Negara Demokratis Punya UU Anti-Spionase, Pakar HI UI Sebut RI Perlu Berbenah

 

Dampak Berdirinya Budi Utomo dan Penetapan Harkitnas


Dampak Bagi Bangsa Indonesia pada Masa Pergerakan
Meskipun pada awalnya bersifat elitis (berpusat pada kaum priayi dan intelektual Jawa), kehadiran Budi Utomo membawa dampak domino yang luar biasa (multiplier effect) bagi struktur sosial-politik Hindia Belanda:

Pelopor Organisasi Modern: Budi Utomo menjadi role model (cetak biru) bagi lahirnya organisasi-organisasi modern lain, seperti Indische Partij (1912), Sarekat Islam (1912), hingga Perhimpunan Indonesia (1908 di Belanda).

Transformasi Pola Pikir: Mengubah paradigma perjuangan dari "senjata" menjadi "pena dan diplomasi".

Embrio Integrasi Nasional: Budi Utomo memicu kesadaran bahwa untuk melawan kolonialisme, dibutuhkan persatuan yang terorganisasi, yang nantinya mengkristal pada Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi 1945.

Baca Juga: Siapkan Proses Pengisian 104 Jabatan Strukural di Pemkab Kebumen yang Masih Kosong

Mengapa 20 Mei Ditetapkan Sebagai Hari Kebangkitan Nasional?
Penetapan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional memiliki latar belakang politik historis yang kuat setelah Indonesia merdeka.

Pada tahun 1948, Indonesia sedang menghadapi ancaman disintegrasi akibat Agresi Militer Belanda dan konflik internal (ideologi).

Presiden Soekarno merasa perlu mencari simbol persatuan yang bisa merekatkan kembali seluruh elemen bangsa.

Atas saran dari para tokoh sejarawan dan pergerakan, Soekarno menetapkan 20 Mei (hari lahir Budi Utomo) sebagai Hari Kebangkitan Nasional melalui keputusan resmi pemerintah.

Budi Utomo dipandang sebagai "pintu gerbang" awal masuknya bangsa Indonesia ke dunia modern yang sadar akan identitas nasionalnya.

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#20 Mei #peringatan #sejarah #HARI KEBANGKITAN NASIONAL