Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sejarah Busana Adat Jawa: Keanggunan Basahan dan Kemegahan Paes Ageng

Magang Radar Jogja • Selasa, 28 April 2026 | 10:38 WIB
Pengantin mengenakan Busana Basahan dan Paes Ageng, pakaian pernikahan adat Jawa.
Pengantin mengenakan Busana Basahan dan Paes Ageng, pakaian pernikahan adat Jawa. (Kolase griyapaesintan.com dan Pinterest)

 
RADAR JOGJA - Busana adat Jawa dikenal sarat makna dan simbol filosofi kehidupan.

Di antara beragam pakaian tradisional, dua yang paling sakral dan penuh nilai sejarah adalah .

Kedua busana ini bukan sekadar pakaian seremonial, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan kebijaksanaan dan keanggunan peradaban Jawa masa lampau.


Asal-usul dan Makna Busana Basahan


Busana Basahan berasal dari lingkungan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta, yang dahulu dikenakan oleh raja dan bangsawan dalam upacara pernikahan maupun ritual penting kerajaan.

Kata basahan sendiri bermakna “busana tanpa baju luar”, karena busana ini dikenakan langsung tanpa atasan, hanya dililitkan kain jarik motif batik khusus seperti Sidomukti atau Sidoluhur, yang melambangkan harapan agar pemakainya hidup makmur dan berkedudukan luhur.

Baca Juga: Kepengurusan Tak Kunjung Disahkan, Ketum Ridho Rahmadi: Lagi-Lagi Ada Upaya Singkirkan Partai Ummat


Pada pria, busana ini biasanya dilengkapi dengan dodot, yaitu kain panjang berukuran besar yang dililitkan mengelilingi tubuh, serta kuluk mataram atau blangkon khas keraton.

Sedangkan perempuan mengenakan kain batik panjang dengan dada terbuka dan ditutup selendang tipis, menonjolkan kesan anggun namun tetap sopan.

Sementara itu, Paes Ageng merupakan tata rias dan busana adat yang menjadi simbol tertinggi keanggunan wanita Jawa, terutama di wilayah Yogyakarta.

Busana ini biasa digunakan oleh pengantin perempuan dalam pernikahan adat keraton.

Baca Juga: Update Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: Korban Meninggal Bertambah Menjadi 7 Orang, 3 Masih Terjepit


Istilah paes merujuk pada tata rias dahi berwarna hitam legam yang membentuk lekukan indah di atas alis, melambangkan kesempurnaan, kematangan, dan kesiapan wanita memasuki kehidupan berumah tangga.


Busana Paes Ageng umumnya dipadukan dengan kemben beludru hitam berhias sulaman emas, stagen, selendang songket, serta perhiasan tradisional seperti cunduk mentul, centhung, dan kalung susun tiga yang memperkuat kesan megah.

Warna hitam, emas, dan hijau yang dominan melambangkan kekuatan, kemakmuran, dan kesuburan.

Baca Juga: Kota Magelang Pimpin Kinerja SPM di Jateng, Layanan Publik Dinilai Paling Optimal


Meskipun zaman terus berubah, nilai-nilai yang terkandung dalam busana Basahan dan Paes Ageng tetap lestari.

Banyak perancang busana modern kini mengadaptasi unsur keduanya dalam karya kontemporer, tanpa menghilangkan makna filosofisnya.


Dengan pelestarian yang terus digalakkan oleh keraton, pemerintah daerah, dan komunitas budaya, Busana Basahan serta Paes Ageng kini bukan hanya identitas masa lalu, tetapi juga kebanggaan masa kini bagi masyarakat Jawa dan Indonesia.
(Alya Amirul Khasanah)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#basahan #paes agung #Busana Adat Jawa #sejarah #pakaian tradisional