Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengulik Kejayaan Radio AM, Dari Corong Negara hingga Tergusur Era FM

Cintia Yuliani • Minggu, 30 November 2025 | 14:00 WIB

 

 

 

 

Photo
Photo

BANTUL - Radio AM pernah menjadi pusat kehidupan informasi masyarakat Indonesia. Jauh sebelum era FM mengambil alih dominasi pada dekade 1980-an.

Dosen Ilmu Komunikasi UMY konsentrasi broadcasting Dhimas Aryo Vipha Ananda menegaskan, kejayaan radio AM tidak dapat dilepaskan dari sejarah penyiaran Indonesia, teknologi yang terbatas pada masa itu, serta fungsi radio sebagai corong komunikasi negara.

Dijelaskan, pada masa awal siaran di Indonesia, masyarakat belum mengenal FM. “Zaman dulu itu kan nggak ada FM. Karena adanya itu, frekuensi AM. Dan zaman itu yang namanya mahal relatif, karena satu-satunya pilihan ya AM,” ujarnya saat dihubungi lewat telepon Jumat (21/11).

Radio masuk ke Indonesia sekitar tahun 1925 pada masa kolonial Belanda. Ketika Jepang berkuasa selama Perang Dunia II, radio tetap digunakan sebagai alat propaganda bersamaan dengan film. “Baik radio maupun audio visual, keduanya ruang propaganda,” katanya.

Setelah proklamasi 1945, radio menjadi media paling penting. RRI berdiri pada 11 September 1945 dan langsung menjadi pusat informasi nasional. Kondisi masyarakat yang sebagian besar belum memiliki televisi membuat radio menjadi barang berharga, terutama bagi kalangan menengah ke atas.

"Tahun 45 sampai 70-an itu satu-satunya corong ya RRI. Masyarakat belum punya TV, jadi radio AM dibeli oleh masyarakat menengah ke atas. Mereka berkerumun untuk mendengarkan berita, politik, hiburan. Murah, cepat, gratis,” tutur Dhimas.

Memasuki era pemerintahan Soeharto yang mulai menjabat pada 27 Maret 1968, isi siaran radio semakin diarahkan untuk mendukung program negara.

RRI berfungsi sebagai corong pemerintah, menayangkan informasi pembangunan, pertanian, pendidikan, hingga kebijakan sosial. Berita menjadi konten dominan, baik hard news maupun soft news, dengan fokus pada program pemerintah.

Selain berita, radio AM juga menghadirkan hiburan, termasuk ajang pencarian bakat legendaris Bintang Radio pada era 70-an, yang melahirkan nama-nama besar seperti Titiek Puspa dan Broery Marantika.

Baca Juga: Kini Lebih Nyaman Curhat di Medsos, Dulu ke Radio, Dosen Psikologi: Ada Pergeseran Ruang Emosional dari Keluarga ke Digital

Radio AM terus bertahan hingga akhir 70-an. Minat anak muda terhadap musik mulai tumbuh, meski pada masa sebelumnya, Soekarno sempat menentang masuknya musik barat. “Masyarakat sudah mulai stabil, kemasan radio AM itu ya sekitar 70 sampai 80-an,” jelas Dhimas.

Perubahan besar terjadi pada awal 1980-an ketika sinyal FM mulai diperkenalkan di Indonesia. Kehadiran FM membuat banyak radio beralih karena teknologi ini lebih murah dan lebih mudah dioperasikan.

"FM itu instrumennya murah, operasional pemancar lebih murah, software lebih mudah. Sementara AM itu mahal, pemancarnya butuh listrik besar, sensitif cuaca. Kayak antenanya kena hujan angin, mati sinyal,” terangnya.

Dhimas mengibaratkan peralihan dari AM ke FM seperti pergeseran motor bensin ke motor listrik yang lebih hemat perawatan.

Meskipun kini tidak lagi menjadi pilihan utama, radio AM belum benar-benar hilang. Beberapa stasiun masih menggunakannya. "Masih ada. RRI di Jogja itu Pro 4 kayaknya masih AM. Di Jakarta ada Radio Muara. Mobil-mobil juga masih menyediakan mode AM dan FM,” kata Dhimas.

Dalam pandangan Dhimas, perjalanan radio AM adalah bagian penting dari sejarah komunikasi Indonesia. “Kalau hari ini semua orang punya handphone, dulu orang punya radio itu sama berharganya. Dia media yang menyatukan masyarakat,” katanya.

Radio AM meski kini tersisih oleh perkembangan teknologi, tetap menyimpan jejak panjang sebagai medium yang membentuk budaya dengar Indonesia. (cin/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Radio AM #radio #rri #UMY