Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menelusuri Jejak Sejarah Candi Kalasan, Permata Kuno Unik di Yogyakarta

Magang Radar Jogja • Sabtu, 8 November 2025 | 20:15 WIB
Candi Kalasan.
Candi Kalasan.

RADAR JOGJA - Candi Kalasan berada di daerah Kalibening, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Candi Kalasan menyimpan cerita tentang kekuasaan, keyakinan, dan perpaduan budaya yang mengagumkan.

Candi Kalasan dibangun pada abad ke-8 Masehi, pada tahun 778M pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, seorang raja dari Dinasti Syailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno.

Candi Kalasan dibangun menjadi bentuk penghormatan kepada Dewi Tara, seorang tokoh penting dalam ajaran Budha.

Candi ini bercorak agama Budha. Candi ini berfungsi sebagai tempat pemujaan dan pusat kegiatan keagamaan bagi umat Budha.

Candi Kalasan memiliki bangunan yang berbentuk seperti bujir sangkar dengan ukuran 45x34 meter dengan empat pintu di empat sisi candi, dengan pintu utama berada di sebelah timur.

Candi ini terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian mahkota candi, tubuh candi, dan kaki candi.

Pada tubuh candi terdapat ruangan utama dan empat ruangan lainnya.

Di ruangan utama ada sebuah patung yang tingginya kurang lebih 6 meter yang terbuat dari perunggu, belum diketahui patung itu perwujudan dari dewa apa.

Ada singgasana yang dihiasi dengan ukiran bentuk singa yang berdiri di atas punggung seekor gajah.

Pada atap candi terdiri dua tingkatan yang berbentuk persegi delapan.

Pada tingkat pertama ada arca yang berbentuk manusia Budha, pada atap tingkat kedua ada arca Dhayani Budha.

Baca Juga: Ahmad Sahroni Dapat Sanksi Terberat Usai Terbukti Langgar Etik, Pasrah Terima Putusan

Pada pucuk tertinggi candi Sari berbentuk stupa segi delapan yang dilengkapi relung dan sulur serta arca buda yang indah.

Pada kaki candi terdapat mekara yang dikelilingi hiasan unik.

Ada salah satu arca yang menarik, yaitu arca Gana yang digambarkan sebagai manusia kerdil yang perutnya buncit dan sering memikul barang.

Salah satu keunikan candi Kalasan terdapat pada semen kuno yang digunakan untuk menempelkan relief.

Biasanya semen perekat yang digunakan menggunakan bahan kimia, tetapi di Candi Kalasan semennya terbuat dari bahan alami, yaitu Vajralepa.

Selain sebagai pelekat elief, semen ini juga dapat melindungi candi dari lumut atau jamur.

Candi Kalasan diklaim sebagai candi Budha tertua di Yogyakarta.

Jika dibandingkan dengan candi Borobudur, Prambanan, Plaosan, candi Kalasan belum seterkenal candi-candi tersebut.

Tetapi keindahan dan nilai historis dari candi Kalasan tidak kalah menarik.

Relief dan pahatan pada candi Kalasan di setiap ukirannya menceritakan kisah dan menyampaikan ajaran.

Dinding candi ada berbagai jenis relief yang menggambarkan adegan-adegan penting dalam ajaran Budha. Mulai dari kelahiran hingga mencapai pencerahan.

Relief-relief ini memberikan visual tentang gambaran perjalanan spiritual Budha menjadi sumber inspirasi bagi umat Budha.

Simbolisme dari relief bunga lotus dalam ukiran melambangkan kesucian, pencerahan dan keindahan spiritual.

Simbolisme dalam relief Gajah juga dilambangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan kesetiaan.

Ukiran-ukiran ini tidak hanya untuk estetika semata, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan religius.

Melalui relief dan pahatan di Candi Kalasan, kita jadi dapat memahami bagaimana masyarakat masa lalu memandang dunia, dan bagaimana mereka memahami ajaran agama serta mengekspresikan keyakinan mereka. (Priskila)

 

 

Sumber: Dinas Pariwisata Jogja/visiting Jogja, Skedupark

Editor : Meitika Candra Lantiva
#candi kalasan #Jejak Sejarah #Yogyakarta #Menelusuri #kerajaan mataram kuno