RADAR JOGJA - Kotagede, kawasan yang diakui dunia karena kekayaan warisan budayanya, kini memiliki pintu gerbang utama untuk menjelajahi seluruh kekayaan tersebut.
Salah satunya termuat dalam Museum Kotagede Intro Living Museum.
Museum ini diresmikan pada 10 Desember 2021.
Tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan koleksi.
Tetapi juga sebagai pusat informasi komprehensif yang mengantar pengunjung untuk memahami konsep "Living Museum" di Kotagede, di mana sejarah dan tradisi masih hidup berdampingan dengan masyarakatnya.
Museum ini berlokasi di bangunan cagar budaya yang dulunya merupakan rumah mewah milik saudagar emas kaya raya Kotagede, BH Noerijah.
Setelah diakuisisi oleh Dinas Kebudayaan DIY pada 2015, bangunan bersejarah ini bertransformasi menjadi titik awal yang krusial untuk mengenal Kotagede secara menyeluruh.
Perpaduan Arsitektur Multikultur dan Pesona Empat Klaster
Keunikan utama museum terletak pada arsitekturnya yang memadukan unsur tradisional Jawa, Eropa, Tiongkok, dan Arab.
Meskipun mengikuti tata ruang Jawa klasik (seperti pendopo, pringgitan, ndalem, dan sentong), bangunan ini menunjukkan ciri khas "Omah Kalang" dengan struktur tinggi, hiasan kaca patri bergaya Eropa, ornamen Tiongkok, serta bagian depan berbentuk kubah masjid yang mengadopsi gaya Arab.
Museum ini menampilkan kekayaan sejarah dan budaya Kotagede dalam empat klaster utama :
1. Klaster Situs Arkeologi dan Lanskap Sejarah
Menampilkan jejak peninggalan masa lalu Kotagede, termasuk artefak dan struktur bangunan bersejarah.
2. Klaster Kemahiran Teknologi Tradisional
Mewakili kemampuan arsitektur tradisional (Kampung, Limasan, dan Tajug) serta menampilkan kerajinan unggulan Kotagede, yaitu perak.
3. Klaster Seni Pertunjukan, Sastra, Adat Tradisi, dan Kehidupan Sehari-hari
Berisi ekspresi budaya seperti karya sastra, seni pertunjukan, adat, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
4. Klaster Pergerakan Sosial Kemasyarakatan
Mengupas dinamika sosial yang melahirkan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Kiai Amir dan Kiai Masyhudi (keagamaan), serta Prof Dr HM Rasyidi, Mr Kasmat Bahuwinangoen, dan Prof Abdul Kahar Muzakkir (masa revolusi kemerdekaan).
Pengalaman Interaktif di Ruang Perak
Museum ini berkomitmen memberikan pengalaman yang menarik melalui berbagai media interaktif.
Salah satu yang paling populer adalah media interaktif di ruang perak.
Di sini, pengunjung tidak hanya melihat hasil kerajinan, tetapi juga dapat menyentuh layar digital untuk mempelajari beragam alat yang digunakan dalam proses kerajinan perak, seperti gunting, tang besar, tang kecil, pipet, dan lainnya.
Selain itu, terdapat juga "dinding ajaib" dan fasilitas lain yang membuat eksplorasi sejarah menjadi lebih menyenangkan dan edukatif.
Museum ini, melalui konsep Intro Living Museum, berfungsi sebagai pengantar agar pengunjung dapat memahami sejarah sebelum menyelami langsung kehidupan budaya Kotagede yang masih lestari. (Chintya Maharani)