RADAR JOGJA - Bagi penumpang setia kereta api, nama Malabar mungkin identik dengan rute Bandung – Malang.
Namun, jauh sebelum menjadi nama kereta, Malabar tercatat dalam sejarah sebagai nama kerajaan, gunung, hingga stasiun radio legendaris yang pernah menjadi kebanggaan dunia.
Stasiun Radio Malabar berdiri megah di kawasan Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Dibangun pada 1917 dan diresmikan pada 5 Mei 1923 oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock, stasiun ini menjadi penghubung komunikasi nirkabel pertama antara Hindia Belanda (Indonesia) dan Belanda, dengan menempuh jarak hingga 12.000 kilometer.
Dirancang oleh Dr Ir Cornelis Johannes de Groot, stasiun ini tercatat sebagai yang tercanggih di dunia pada masanya.
Tak hanya menjadi tonggak teknologi, Radio Malabar juga menorehkan sejarah budaya.
Pada 1937, stasiun ini menyiarkan gending gamelan secara langsung dari Pura Mangkunegaran untuk mengiringi tarian Gusti Nurul di Belanda pada pernikahan Putri Mahkota Juliana.
Peristiwa ini dianggap sebagai konsep live streaming pertama di Indonesia.
Sapaan legendaris “Hallo Bandoeng, Hier Den Haag” menjadi momen ikonik yang diabadikan dalam lagu “Hallo Bandoeng” karya Willy Derby yang kemudian dipopulerkan kembali oleh Wieteke Van Dort.
Sayangnya, kejayaan itu berakhir saat peristiwa Bandung Lautan Api.
Demi mencegah Belanda kembali menguasai Indonesia, stasiun ini dihancurkan.
Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan, area perkemahan, dan aliran Sungai Cigereuh yang menjadi saksi bisu kejayaan Radio Malabar yang pernah menghubungkan dua benua. (Jihan Pertiwi)