Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Raja Keraton Jogja HB Ka 10: Kepemimpinan Pangeran Diponegoro Cerminan Manunggaling Kawula-Gusti

Heru Pratomo • Sabtu, 26 Juli 2025 | 06:45 WIB
Diskusi Perang Jawa yang diselenggarakan Perpusnas.
Diskusi Perang Jawa yang diselenggarakan Perpusnas.

 

RADAR JOGJA - Kepemimpinan Pangeran Diponegoro mencerminkan konsep Manunggaling Kawula-Gusti, yakni kesatuan antara rakyat dan pemimpin.

Demikian disampaikan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10, dalam pidato kebudayaannya pada acara puncak Peringatan 200 Tahun Perang Jawa yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) di Jakarta, pada Jumat (25/7/2025).

“Pangeran Diponegoro “sang pangeran-pandhita”, tampil bagai surya di tengah kegelapan, sebagai jiwa penggerak yang menyatukan rakyat dalam satu tekad: melawan,” ujarnya.

Begitulah sejatinya hubungan ideal pemimpin dan yang dipimpin, resiprokal atau timbal balik yakni saling memberi dan menerima dalam kebersamaan tujuan.

Berlangsung selama lima tahun, 1825-1830, Perang Jawa mengubah Jawa menjadi medan pertarungan antara martabat dan penindasan, antara kearifan lokal dan keserakahan kolonial.

 

Dalam pidato kuncinya, Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menyampaikan untuk mengusung semangat perjuangan dalam Perang Jawa, Perpusnas memilih tajuk “Martabat” sebagai tema utama Peringatan 200 Tahun Perang Jawa.

“Hakikat martabat inilah yang ingin kami wujudkan dalam kiprah Perpusnas yang diberi mandat untuk membangun kecakapan literasi melalui penguatan budaya baca, merawat bahan pustaka warisan bangsa, dan membina perpustakaan se-Indonesia Raya. Itulah hakikat visi baru kami Perpustakaan Hadir Demi Martabat Bangsa,” urainya.

 

Adapun tiga hal penting untuk menyokong suksesnya program ini adalah upaya sistematis dan terukur untuk mengisi ruang-ruang publik dengan isu pernaskahan, memungkinkan adanya akses seluasnya dan peluang penciptaan karya-karya kreatif berbasis naskah, serta memperkuat ekosistem pernaskahan melalui kemitraan dan advokasi.

Sementara itu, dalam sesi gelar wicara dengan tajuk Demi Martabat Bangsa “Refleksi Peristiwa Perang Jawa bagi Indonesia Maju”, sejarawan asal Inggris, Peter Carey, menjelaskan Pangeran Diponegoro merupakan seorang bangsawan yang mau bahu membahu bersama rakyatnya dan mendengarkan suara rakyat kecil.

Diponegoro, lanjut Peter, memiliki integritas tinggi dan tidak kenal kompromi, serta memahami bahwa memegang tanggung jawab politik bukan kesempatan tapi amanah dan keprihatinan.

“On the rise and fall of a country, everyone has a responsibility, self, and family may be sacrificed but between right and wrong there can be no compromise. Hal tersebut yang dijiwai oleh seorang Diponegoro, integritas yang tinggi dan tidak kenal kompromi,” urai penulis biografi monumental Pangeran Diponegoro ini.

Sementara itu, generasi ketujuh dari Pangeran Diponegoro, Roni Sadewo, menegaskan bahwa perjuangan Diponegoro bukan semata-mata perang militer. Tetapi, perjuangan tersebut merupakan bentuk perlawanan demi mempertahankan martabat bangsa.

"Perang bukanlah hal yang disukai oleh Pangeran Diponegoro. Dalam babad yang ditulis di masa pengasingan, sangat jelas bahwa beliau ingin menjaga martabat dan menjalankan perintah agama dengan benar," jelasnya.

Menurutnya, warisan terbesar dari Diponegoro bukan hanya jejak perangnya, melainkan nilai-nilai kejujuran, keberanian, ketegasan, dan kebijaksanaan yang diajarkan lewat tulisan dan keteladanan hidupnya.

Peneliti manuskrip Islam Nusantara, Ahmad Ginanjar Sya’ban, membenarkan hal ini. Ia menguraikan, sisi terpenting dalam kehidupan Pangeran Diponegoro yang banyak mempengaruhi karakter dan jati diri Sang Pangeran, tetapi pada masa sekarang kerap kali terlupakan adalah sisi keulamaan dan kesantrian.

“Salah satu literatur yang menjadi bacaan favorit Sang Pangeran dan membentuk karakter beliau itu satu buah karya yang berjudul al-Tuhfah al-Mursalah karya sufi agung dari Gujarat, Al-Burhanpuri dan isi ajarannya adalah mengenai Martabat Tujuh,” jelasnya.

Dosen Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, Eka Ningtyas, dalam paparannya mengatakan ketokohan Diponegoro telah mengalami transformasi dari simbol perlawanan lokal Jawa menjadi tokoh nasional yang relevan hingga saat ini. Ia menyebutkan bahwa semangat Diponegoro kini telah menjadi warisan seluruh bangsa Indonesia.

“Spirit perjuangan Diponegoro bukan sekadar warisan bagi orang Jawa, tapi bekal kepemimpinan bangsa Indonesia hari ini agar menjadi bangsa yang kuat,” terangnya.

 

Editor : Heru Pratomo
#200 Tahun Perang Diponegoro #Perpusnas #Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 #perang jawa #jakarta #Pangeran Diponegoro