JOGJA - Peringatan Hari Jadi DIJ ke-270, tahun ini merupakan penyelenggaraannya yang kedua. Adakan berbagai macam kegiatan di Ramadan dengan mengangkat tema Jogja Tumata, Tuwuh, Ngrembaka.
Hari jadi DIJ relah ditetapkan melalui perda nomor 2 tahun 2023. Sejarah penanggalan Hari Jadi DIJ ditarik saat peristiwa Perjanjian Giyanti pada 1755. Setelah perjanjian tersebut, terdapat peristiwa Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Nagari Ngayogyakarta Hadinigrat.
"Tanggalan Jawanya yakni 29 Jumadil Awal tahun 1680 pas hari Kamis Pon. Konversi masehinya 13 Maret 1755," ujar Kepala Biro Tata Pemerintahan Setprov DIJ Danang Setyaji saat dikonfirmasi, Rabu (12/3).
Peristiwa Sri Sultan Hamengku Buwono I yang mendeklarasikan berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat kepada keluarga, kerabat dan abdi dalem pengikutnya itulah yang menjadi penentuan tanggal Hari Jadi DIJ.
Peringatan Hari Jadi DIJ tahun ini mengangkat tema Jogja Tumata, Tuwuh, Ngrembaka. Tema tersebut dapat diartikan sebagai tahapan menuju DIJ yang lebih baik. Tumata berarti Jogja yang tertata, diartikan sebagai upaya penataan Jogja sesuai dengan nikai dan budaya yang ada.
"Setelah tertata kemudian Jogja bisa tuwuh atau tumbuh dengan nilai yang ada. Harapan ke depan Jogja bisa Ngrembaka atau berekembang sesuai dengan jati dirinya," tuturnya.
Terdapat empat rangkaian utama peringatan Hari Jadi DIJ ke 270 yang diselenggarakan. Mulai dari pelaksanaan ziarah tiga makan leluhur DIJ yakni Astana Kuthagede atau makam raja-raja Mataram di Kotagede, Jogja. Kemudian Astana Pajimatan atau makam raja-raja di Kecamatan Imogiri, Bantul dan Astana Girigondo atau makam adipati di Kulon Progo.
"Selanjutnya nanti malam ada malam tirakatan di Bangsal Kepatihan, Paginya Upacara Peringatan Hari Jadi dan dilanjut rapat Paripurna di DPRD DIJ," terangnya.
Sekretaris Provinsi Beny Suharsono mengatakan semangat peringatan ini adalah keterlibatan aktif masyarakat untuk membangun masa depan DIJ. Menurutnya kemajuan peradaban di suatu daerah bukan milik segelintir orang namun milik seluruh masyarakat yang berperan aktif dalam pembangunan.
"Seperti pada tema Ngrembaka, yakni hutan yang tumbuh dari keberagaman pohon, DIJ juga berkembang dari keberagaman ide, aspirasi, dan partisipasi seluruh elemen masyarakat," ujarnya. (oso/pra)
Editor : Heru Pratomo