RADAR JOGJA - Runtuhnya Jembatan Srandakan lama bagi sebagian orang sangat disayangkan. Lantaran jembatan ini menjadi saksi bisu perubahan zaman, sejak masa penjajahan Belanda hingga pasca-kemerdekaan.
Jembatan Srandakan lama merupakan penghubung Kabupaten Kulon Progo dengan Kabupaten Bantul. Menjadi akses strategis kala itu, jembatan ini memperpendek jarak tempuh untuk sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah selatan DIY. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Kulon Progo Riyadi Sunarto.
ASN yang kurang dari dua tahun lagi menikamati masa pensiun ini menyampaikan kenangan terhadap Jembatan Srandakan lama. Sebagai ASN, dirinya sering ditugaskan menuju wilayah Bantul dan Gunungkidul. Jembatan Srandakan lama menjadi akses utama dan tercepat baginya. Lantaran jika melewati Jembatan Bantar, sama saja memutar jauh. "Itu akses utama, terutama ke Bantul dan Gunungkidul," ucapnya.
Sekitar tahun 1990 dirinya rutin melewati jembatan ini. Lantaran ditugaskan untuk ke luar wilayah untuk mengurus persuratan. Hal ini membuat ia memiliki kenangan manis dengan Jembatan Srandakan lama sebelum ditutup.
Riyadi menceritakan, Jembatan Srandakan lama merupakan jembatan yang dibangun untuk kebutuhan kereta lori pengangkut tebu. Sebelumnya jembatan ini memiliki gelagar lantai berbahan kayu. Namun pada 1951 jembatan dialihfungsikan untuk lalu lintas kendaraan, sehingga lantai jalan berubah menjadi beton.
Usai perubahan lantai, tak membuat jembatan beroperasi optimal. Lantaran jembatan hanya memiliki lebar tiga meter. Membuat kendaraan roda empat tak bisa berpapasan. Bagi Riyadi, hal itulah yang paling mengenang. "Dulu tidak bisa berpapasan. Kalau pelat merah, biasanya didahulukan," ucapnya.
Riyadi menyampaiakan, saat perjalanan dinas ia merasa dimudahkan dengan menggunakan kendaraan pelat merah. Lantaran kendaraan pelat merah akan didahulukan dibanding kendaraan lain. Bahkan kendaraan lain rela mengantre hingga 15 menit untuk menunggu.
Selain kenangan melewati jembatan, Riyadi menjadi saksi pengikisan pondasi. Menurutnya, sedimen pasir di bawah jembatan terus mengalami penurunan sejak tahun 90-an. Perkiraannya menunjukkan penurunan dasar sungai sekitar 3 meter. Dari jarak semula jembatan ke dasar 7 meter menjadi 10 meter. "Ini sejak tambang masif, sedimen terus hilang," ucapnya.
Riyadi menyampaikan, akibat pengerukan pasir di hulu, sedimen yang seharusnya terbawa sungai akhirnya terus berkurang. Akibatnya, bagian pondasi jembatan mulai terlihat, dan di tahun akhir 1998 jembatan mengalami patah.
Tak selesai sampai di situ, Jembatan Srandakan tetap berfungsi kembali. Lantaran pemerintah membangun jembatan darurat berbahan baja. Namun jembatan darurat hanya digunakan tidak terlalu lama. Lantaran Jembatan Srandakan 2 mulai dibangun dan beroperasi di tahun 2007. (gas/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita