JOGJA - Zaman kini terus berubah, teknologi juga semakin canggih. Kondisi ini pun membuat peralatan yang kerap dijumpai masyarakat juga ikut berubah. Seperti halnya korek api sumbu yang sekarang sudah tergerus zaman.
Dulu pada era 1990-an, korek api sumbu terbilang masih menjadi primadona. Masyarakat cukup mudah menjumpai korek itu di warung terdekat. Apalagi barang ini juga cukup identik dengan para perokok berat.
Mantan pengguna korek sumbu Hamami, 52, mengatakan, korek sumbu dulu menjadi pilihan alternatif atau pengganti korek kayu. Sebab jika bekas korek kayu dibuang sembarangan, akan menimbulkan nuansa kumuh.
Selain itu korek sumbu juga dinilai memiliki keunggulan dapat mengeluarkan api lebih besar. "Mendingan korek besi. Misal orang tidak peduli kebersihan, setiap sudut rumah pasti ada bekas korek kayu," kata warga Sadang, Kebumen, Jumat (10/1).
Hamami masih ingat, dulu dia harus sering mengecek sumbu korek api yang dibuat dari kapas. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas nyala api. Selain itu, dia juga harus memastikan sumbu tetap basah dengan minyak tanah sebagai suplai bahan bakar agar sumbu tetap dapat berfungsi optimal.
"Biasanya deles (sumbu) itu ditambah minyak klentik, biar nyalanya awet. Tergantung pemakaian juga sih," ujarnya.
Dia mengaku sudah lama beralih dari korek sumbu ke korek gas. Harga yang terjangkau dengan penggunaan mudah dan praktis membuat dirinya beralih ke korek gas.
"Sekarang males ribet. Harus cari kapas dan minyak tanah. Mendingan beli Rp 2.000 udah dapat korek gas. Tinggal cekrek, praktis," jelasnya.
Sebagian masyarakat mengenal korek sumbu dengan sebutan korek cemong. Korek ini juga bisa menjadi salah satu tolok ukur status masyarakat.
Dulu korek cemong identik dengan masyarakat kalangan bawah. Sedangkan bagi masyarakat menengah biasanya memilih korek dengan bahan baku berkualitas.
"Orang kaya atau tokoh terpandang biasanya pakai Zippo. Itu kan terkenal tahan angin. Gas isi ulangnya mahal," kata Winardi, pengguna lain. (fid/laz)
Editor : Heru Pratomo