JOGJA - Korek ini pernah begitu populer pada masanya, tepatnya sebelum beredar korek api gas era 2000-an. Ada yang menyebut sebagai korek api sumbu, korek minyak tanah, atau korek api kapas. Bahkan di sejumlah daerah ada yang menamainya dengan cemong.
Salah seorang pengguna korek minyak tanah ini adalah Siswanto, warga Purworejo. Kakek berusia 56 tahun itu, menggunakan korek tersebut saat dia muda. "Zaman saya muda koreknya seperti itu. Belum ada korek gas," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (10/1).
Dia mengaku, sebenarnya lebih senang menggunakan korek sumbu kapas dengan sumber tenaga dari minyak tanah, karena apinya lebih awet. Tidak mudah padam jika terkena angin.
Selain itu, lebih mudah diisi ulang karena bisa dilakukan sendiri. Caranya tinggal ditarik antara sumbu dan wadahnya. "Kalau kapasnya masih bagus, ya tinggal dijok (diisi) minyak tanah. Kalau sudah jelek ya ganti," bebernya.
Namun, kata Siswanto, saat ini dia melihat pengguna korek itu sudah jarang. Dia pun juga sudah beralih ke korek dengan sumber tenaga gas yang lebih murah dan praktis. "Minyak tanah sekarang mahal. Kalau isi ulang korek gas di sini juga cuma murah," ungkapnya.
Meski begitu, banyak kenangan dari korek api ini. Dia tak menyangka benda itu kini menjadi sebuah barang antik dan kuno. "Zaman dulu kalau lihat korek itu ya seperti lihat korek gas saat ini," ucapnya sambil tertawa.
Dari segi bahan, dia mengatakan lebih awet korek cemong dibandingkan korek api gas saat ini. Jika terjatuh, tidak mudah pecah. "Nek dibeto ngarit mboten kuatir pecah (kalau dibawa ke kebun cari rumput tidak khawatir pecah, Red)," ungkapnya. (han/laz)
Editor : Heru Pratomo