JOGJA - Dalam masa senjanya, Raden Mas Iskandar Soerjopranoto, bangsawan trah Pakualaman yang oleh Belanda dijuluki Si Raja Mogok, menjalankan laku tapa pandita. Perjalanan histori itulah yang mengilhami Komunitas Seni Sakatoya menggelar pertunjukan ziarah di Makam Rachmat Jati, Gambiran, Umbulharjo, Jogja, Minggu (8/12).
Alunan langgam Jawa lirih dibunyikan sore itu. Dupa wewangian sengaja dihidupkan di sudut-sudut panggung halaman makam RM Soerjopranoto. Dua orang penampil sekaligus pemimpin ziarah, Muhammad Yaser Arafat dan Rendra Bagus Pamungkas, bersimpuh di panggung dengan pakaian tradisional Jawa.
"Hari ini kita meneguk air dari sumur yang leluhur buat, hari ini kita berdiri di atas tanah-tanah leluhur yang bahkan kita tidak tau siapa nama dan sejarahnya," ujar Yaser dalam pembukaan penampilannya.
Ia kemudian mengenalkan sosok RM Soerjopranoto dengan ringkas. RM Soerjopranoto lahir 11 Januari 1871 di lingkungan yang kuat dalam tradisi Islam dan Jawa. Tepatnya di Kadipaten Pakualaman, cucu Paku Alam III itu pun lahir.
RM Soerjopranoto dewasa dikenal dengan tokoh bangsawan yang tidak membanggakan gelar kebangsawanannya. Tidak kalah populer dengan adiknya, Ki Hajar Dewantara. RM Soerjopranoto berani meninggalkan kebangsawanan dan pergi membela hak-hak buruh pekerja perusahaan Belanda.
"Ia pernah menempleng orang kulit putih, karena memperlakukan pribumi semena-mena. Soerjopranoto kemudian diadili pemerintah kolonial. Ia lalu merobek robek ijazahnya di meja persidangan," ungkap dosen Prodi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Agama Islam UIN Sunan Kalijaga itu.
Sekitar tahun 1915, RM Soerjopranoto membentuk tentara buruh dengan nama Pandoyo Prawira ing Yudha. Kelompok itu memiliki anggota 10.000 orang yang tersebar di seluruh Jawa. "Tugasnya menyelematkan pekerja yang diberlakukan sewenang-wenang di perusahaan Belanda," tambahnya.
Singkat cerita, RM Soerjopranoto pun sampai diberi gelar kepahlawanan oleh Presiden Soekarno sebagai pembela rakyat ketika itu.
Makam Gambiran sendiri dipilih sebagai lokasi pementasan bukan tanpa dasar. Selain menjadi peristirahatan terakhir, daerah itu juga menjadi tempat RM Soerjopranoto melakukan tapa pandita.
"Sosok ini pada akhir hayatnya, sebelum masa senja melakukan tapa pandita seperti kebiasaan bangsawan Jawa," ujar Yasser.
Baginya, tapa pandita merupakan laku bangsawan Jawa untuk menyambut kematian. Kematian diartikan sebagai 'sowan' ke hadapan sang pencipta. Dalam laku itu, RM Soerjopranoto menghayati kisah Nabi Muhammad SAW dan mendalami Alquran. "Bahkan beliau mengkliping teks khotbah Jumat yang beredar di koran-koran saat itu," tuturnya.
Di masa tapa pandita, RM Soerjopranoto sangat menyukai tokoh pewayangan figur Semar. Ornamen dua Semar di atas nisannya menjadi bukti kekagumannya pada tokoh itu.
Penampilan dari Yasser ditutup dengan tembang Jawa yang dilantunkan aktor yang sudah melintang di dunia perfilman Indonesia, Rendra Bagus Pamungkas. Tembang itu merupakan buah karya RM Soerjopranoto saat laku tapa pandita. Butir kalimat dalam tembang sangat lekat dengan pemaknaan seorang hamba yang sedang dalam massa pencarian Tuhan.
Setelah tembang selesai dilantunkan, dari dua penjuru arah yang berbeda muncul dua tokoh dengan topeng dan perawakan Semar. Mereka berjalan, memberikan bunga setaman kepada Rendra sebagai simbol dimulainya ziarah kubur.
Dua tokoh Semar itu kemudian menuntun para penonton memasuki gerbang makam. Penonton pun berbondong-bondong masuk dengan membawa bunga setaman yang dibungkus daun pisang.
"Ketika tapa mandita, RM Soerjopranoto melihat watak Semar seperti cerminannya. Bahkan ia berwasiat untuk dimakamkan bersama Semar," jelas sutradara pertunjukan Merapal Piwulang Sampai Pulang, Amalia Rizqi Fitriani.
Itulah yang melatarbelakangi sutradara memunculkan dua tokoh Semar dalam pertunjukan. Ia merepresentasikan tokoh Semar sebagai sifat-sifat ilahi yang menyimbolkan cinta kasih yang hadir saat RM Soerjapranoto dalam massa pendekatan kepada Tuhan.
"Kehadiran Semar seperti jawaban dari doa-doa yang dipanjatkan. Suatu keberkahan dan petunjuk bagi semua orang," tuturnya.
Konsep pertunjukan menggunakan dramaturgi di mana penonton diposisikan sebagai para peziarah. Pertunjukan sekaligus untuk mendoakan RM Soerjopranoto dan mengenang perjuangannya.
"Penonton kami ajak mendalami siapa sosok RM Soerjopranoto dan kiprahnya dalam membela hak-hak kaum terpinggirkan," tegasnya. (laz)
Editor : Heru Pratomo