Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Makam Tumenggung Endranata: Pengkhianat Mataram yang Dimakamkan dengan Cara Tidak Biasa di Tengah Anak Tangga di Makam Raja Imogiri

Izzatul Akmal Fikri • Jumat, 6 Desember 2024 | 18:06 WIB

Jejak pengkhianatan Tumenggung Endranata terpatri di anak tangga menuju Pajimatan Imogiri.
Jejak pengkhianatan Tumenggung Endranata terpatri di anak tangga menuju Pajimatan Imogiri.


RADAR JOGJA - Pajimatan Imogiri, kompleks makam para raja Mataram Islam, menyimpan sejarah unik yang tidak hanya mencakup kisah raja-raja beserta keturunannya.

Tetapi juga cerita kelam seorang pengkhianat bernama Tumenggung Endranata.

Sosok yang memiliki nama asli Ngabehi Mertajaya ini tidak dimakamkan dengan hormat seperti keluarga kerajaan lainnya, melainkan di salah satu anak tangga menuju kompleks makam.

Lokasi makamnya yang berbeda, berbentuk tidak rata, menjadi penanda yang menarik perhatian peziarah hingga hari ini.

Tumenggung Endranata awalnya dikenal sebagai seorang punggawa (perwakilan) Kerajaan Mataram yang berjasa membantu Sultan Agung Hanyokrokusumo menaklukkan Demak dan sekitarnya.

Namun, kesetiaannya hancur setelah ia melakukan pengkhianatan yang berdampak besar pada kekuatan kerajaan.

Kisah kelam ini berakhir dengan hukuman mati yang diberikan langsung oleh Sultan Agung, raja ketiga Mataram Islam yang memerintah pada 1613-1645.

Menurut cerita lisan dalam Serat Kandha, eksekusi terhadap Tumenggung Endranata dilakukan secara brutal.

Tubuhnya dimutilasi menjadi tiga bagian sebagai bentuk penghinaan. Bagian kepala dipancangkan di alun-alun Jayakarta sebagai peringatan bagi Belanda, kakinya dibuang ke laut sebagai simbol pengusiran, dan badannya dikubur di Imogiri.

Pemakaman di tempat terhormat ini justru dimaksudkan sebagai penghinaan yang menegaskan bahwa ia tidak diterima di dunia maupun di akhirat.

Pengkhianatan Endranata bukan tanpa alasan dijatuhi hukuman berat.

Salah satu kesalahan fatalnya adalah memprovokasi konflik antara Sultan Agung dan Adipati Pragola II, penguasa Pati yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sultan.

Provokasi ini memicu perang saudara yang berujung pada kematian Adipati Pragola II pada 4 Oktober 1627.

Perang tersebut menewaskan lebih dari 350.000 orang dari kedua belah pihak, melemahkan Mataram secara signifikan, dan menguras sumber daya kerajaan.

Kesalahan besar lainnya adalah membocorkan strategi Sultan Agung dalam penyerangan ke Batavia pada 1628 dan 1629.

Rencana matang Sultan Agung untuk menghancurkan VOC dengan mendirikan lumbung-lumbung beras di Karawang dan Cirebon digagalkan setelah informasi penting itu disampaikan Endranata kepada Belanda.

Akibatnya, pasukan Mataram mengalami kekalahan telak, dengan banyak prajurit yang tewas atau tertawan.

Tumenggung Endranata kini dikenang sebagai simbol pengkhianatan yang membawa bencana besar bagi Kerajaan Mataram Islam.

Keberadaan makamnya di anak tangga menuju Pajimatan Imogiri seolah menjadi pengingat akan pengkhianatan yang tidak hanya mengkhianati raja, tetapi juga melemahkan kekuatan sebuah kerajaan besar.

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#makam raja imogiri #Makam Tumenggung Endranata #sultan #Kerajaan Mataram #Sultan Agung Hanyokrokusumo #sultan agung #Tumenggung Endranata