Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengulik Sejarah Stasiun Tugu Jogja yang Dulunya Berfungsi Sebagai Pengangkut Hasil Perkebunan pada Masa Kolonial Belanda

Meitika Candra Lantiva • Kamis, 7 November 2024 | 22:07 WIB

 

Stasiun Tugu Yogyaakarta pada tTahun 1890.
Stasiun Tugu Yogyaakarta pada tTahun 1890.

RADAR JOGJA – Stasiun Tugu Jogja merupakan salah satu ikonik Kota Jogja yang letaknya dekat dengan Malioboro.

Stasiun kereta api ini bersejarah. 

Berdiri sejak masa kolonial Belanda, yakni, 12 Mei 1887 oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Belanda yakni Staats Spoorwegen (SS).

Dulunya berfungsi sebagai jalur utama untuk mengangkut hasil perkebunan dari wilayah pedalaman Jawa ke pelabuhan.

Stasiun Tugu Yogyakarta dibangun untuk mendukung perkembangan ekonomi di sekitar Vorstenlanden dan berlokasi di atas tanah milik Kesultanan Yogyakarta.

Sebagai salah satu bangunan tertua, Stasiun Tugu Yogyakarta menjadi stasiun kedua di Yogyakarta setelah Stasiun Lempuyangan yang diresmikan pada 2 Maret 1882 oleh perusahaan swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Setelah dibangunnya Stasiun Lempuyangan, pada 12 Mei 1887 perusahaan Staats Spoorwegen (SS) membangun Stasiun Tugu Yogyakarta di sebelah baratnya.


Pada awalnya Stasiun Tugu Yogyakarta hanya dimanfaatkan untuk mengangkut barang, namun sejak tahun 1905 layanan penumpang mulai dioperasikan oleh Stasiun Tugu Yogyakarta.

Stasiun ini menjadi sarana utama bagi para pembesar Belanda yang sering melanjutkan perjalanan dari stasiun ini menuju lokasi lain menggunakan jalur darat.


Dengan arsitektur bergaya klasik, Stasiun Tugu Yogyakarta direnovasi bergaya Art Deco pada 1925-1927.

Sehingga mencerminkan keindahan dan kemewahan pada masa itu.

Bagian pintu masuk utama menghadirkan delapan tiang persegi yang kokoh, sementara fasadnya menonjolkan bentuk geometri yang khas mencerminkan kebesaran, kekuasaan, serta kekuatan.


Bangunan ini diapit oleh jalur kereta api serta memiliki terowongan bawah tanah yang menjadi penghubung antara peron utama dan selatan.

Selain itu, terdapat gudang, bangunan rumah sinyal, dan pusat reservasi sebagai fasilitas pendukung.


Peran Stasiun Tugu Yogyakarta semakin penting selama masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Stasiun ini menjadi tempat pemberangkatan dan kedatangan para pasukan pejuang, bahkan mencatat momen sejarah saat pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta pada Januari 1946.

Pada masa pendudukan Jepang, stasiun ini sempat dikuasai oleh Jepang hingga bisa direbut kembali leh Angkatan Muda Kereta Api pada 28 September 1945.

Hal ini menandai awal perkeretaapian nasional di bawah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI).


Hingga saat ini, Stasiun Tugu Yogyakarta tidak hanya menjadi titik penting dalam jaringan perkeretaapian Pulau Jawa, tetapi juga ditetapkan sebagai cagar budaya.

Meskipun jalur Semarang ek Magelang tidak lagi beroperasi, stasiun Tugu Yogyakarta tetap mempertahankan fungsi utamanya sebagai penghubung utama dengan berbagai kota besar di Pulau Jawa. (Isti Nurul Hidayah)




Editor : Meitika Candra Lantiva
#stasiun tugu #Staats Spoorwegen #Kolonial Belanda #sejarah #Stasiun Tugu Jogja