Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ini Sebab Jalan di Kotabaru Diberi Nama-Nama Pahlawan, Berkat Perjuangan Melawan Jepang, Diperingati tiap 7 Oktober

Naila Nihayah • Senin, 7 Oktober 2024 | 15:10 WIB
Photo
Photo

 

RADAR JOGJA - Selain peringatan HUT Kota Jogja, tiap 7 Oktober di Kota Jogja juga selalu mengenang peristiwa perjuangan. Yaitu peristiwa Serbuan Kotabaru. Yang sampai kini monumennya masih ada dan nama para pejuang yang gugur dijadikan nama jalan di kawasan Kotabaru.

 

Tak banyak yang tahu arti prasati di dalam komplek Asrama KOREM 072/Pamungkas di Kotabaru, Gondokusuman, Jogja. Padahal di sana tertulis nama-nama pejuang yang gugur. Banyak yang salah mengira juga jika Serbuan Kotabaru dilakukan terhadap penjajah Belanda.

 

Peristiwa yang tercatat sebagai pertempuran pertama pascaproklamasi kemerdekaan itu terjadi tepat 79 tahun lalu. Tepatnya 7 Oktober 1945. Peristiwa itu terjadi ketika elemen masyarakat melawan para tentara Jepang yang masih bertahan di Kota Jogja.

Baca Juga: Siapkan Mantol Lur! Ada Potensi Hujan di Beberapa Wilayah, Berikut Penjelasan BMKG Yogyakarta

Baca Juga: Ada untuk Kepentingan Pribadi, KPK Diminta Serius Mengusut Dugaan Penyalahgunaan Dana CSR di BI dan OJK

Guna melengkapi kedaulatan rakyat, diperlukan peralihan kekuasaan dari pihak Jepang. Upaya terus dilakukan, seperti aksi serentak rakyat yang dipelopori oleh para pemuda pada 22 September 1945. Berupa pengibaran bendera Merah Putih di depan gedung-gedung pemerintahan sepanjang jalan Malioboro hingga Gedung Seminari Kotabaru.

 

Kala itu, para pemuda menemui pasukan Jepang untuk menyerahkan senjata secara damai pada 6 Oktober 1945. Namun, sifat Jepang yang licik dan terus mengulur waktu, para pejuang memutuskan untuk menyerbu komplek markas tentara Jepang di Kotabaru. Hingga pukul 21.00, tersiar kabar yang isinya ajakan kepada segenap lapisan masyarakat untuk ikut dalam penyerbuan. Dulu karena TNI baru terbentuk 5 Oktober, persediaan senjata masih terbatas.

 

Hingga muncullah inisiatif untuk menggunakan senjata yang sekadarnya. Bambu runcing, tombak, dan keris. Ketika siap menyerang, Jepang kembali licik. Mereka memasang barikade kawat berduri di sekitar markasnya. Bahkan dialiri listrik. Kenyataan itu membuat pimpinan serangan memberikan siasat agar memadamkan aliran listrik dari gardu induknya.

TRADISIONAL: Para pengunjung tempak memadati kawasan Pasar Kebon Watugede. Banyak makanan, minuman, jajanan tempo dulu, hingga permainan anak-anak yang dijajakan.(Naila Nihayah/Radar Jogja)
TRADISIONAL: Para pengunjung tempak memadati kawasan Pasar Kebon Watugede. Banyak makanan, minuman, jajanan tempo dulu, hingga permainan anak-anak yang dijajakan.(Naila Nihayah/Radar Jogja)

Tepat menjelang subuh, 7 Oktober 1945, aliran listrik padam. Terdengar ledakan granat dan dimulailah penyerbuan dari segala penjuru. Pertempuran sengit terjadi. Banyak menelan korban jiwa dari kedua belah pihak.

 

Perlawanan semakin tak terelakkan. Pasukan Jepang kian melemah. Sekitar pukul 10.30, Jepang kibarkan bendera merah putih sebagai tanda menyerah. Kemudian, dilucuti senjatanya dan para tentara Jepang digiring ke tempat tawanan di Wirogunan, Jogja.

 

Sebanyak 21 pemuda gugur dalam Serbuan Kotabaru. Abu Bakar Ali, Achmad Zakir, Ahmad Djazuli, Atmosukarto, Bagong Ngadikan, Djoemadi, Djuhar Nurhadi, Faridan M Noto, Hadi Darsono, I Dewa Nyoman Oka, Djerhas Mohammad Wardani, Oemoem Kalipan, Sareh, Sadjiyono, Sabirin, Soenaryo, Soeroto, Soepadi, Soehodo, Soehartono, dan Trimo.

 

Sejak Oktober 1958 dalam musyawarah pembangunan kotapraja Jogja, pemerintah mengusulkan untuk menggunakan nama pahlawan yang gugur dalam penyerbuan Kotabaru menjadi nama jalan di wilayah Kotabaru. Menggantikan nama jalan-jalan zaman Belanda.

Editor : Heru Pratomo
#Kota Jogja #Serbuan #nama jalan #7 Oktober #kotabaru #bambu runcing #perjuangan #jepang #pahlawan