Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Warisan Budaya yang Tak Lekang oleh Waktu, Garis Imaginer Yogyakarta

Meitika Candra Lantiva • Selasa, 17 September 2024 | 21:06 WIB
Garis Imaginer sumbu filosofis Yogyakarta.
Garis Imaginer sumbu filosofis Yogyakarta.

RADAR JOGJA - Jogja merupakan jantungnya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Selain memiliki julukan kota pelajar, Jogja juga memiliki julukan lain seperti kota sejarah, disini jika ingin belajar sejarah dan makna dari sejarah tersebut ada dan lengkap.

Salah satu sejarah yang syarat akan makna dan tak lekang oleh waktu tersebut yakni Sumbu Filosofi Jogja.

Warisan yang sudah ditetapkan oleh UNESCO pada Sidang ke-45 di Riyadh, Arab Saudi tersebut syarat akan nilai sejarah dan makna.

Sejarah dan makna apa yang terdapat di Sumbu Filosofi yang menghubungkan dari jantung kota hingga ke Gunung Merapi dan Pantai Selatan ini berikut ulasannya.

Sumbu Filosofi Jogja:

Pada tahun 1755, Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang dikenal dengan Pangeran Mangkubumi, Mulai membangun Kota Yogyakarta.

Konsep pembangunan tata ruang Kota Yogyakarta dihasilkan dari proses menep atau perjalanan hidup pangeran mangkubumi.

Prinsip utama yang dijadikan dasar pembangunan keraton oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I adalah konsepsi Hamemayu Hayuning Bawono.

Yang memiliki arti membuat bawono (alam) menjadi hayu (indah) dan rahayu (selamat dan lestari).

Berlawanan dengan anggapan umum, sebenarnya Laut Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi tidak persis berada dalam satu garis yang lurus.

Oleh karena itu, poros bentang alam ketiganya disebut sebagai sumbu imajiner, sumbu nyata yang membentang utara selatan dalam satu garis lurus.

Adapun filosofi poros imajiner ini merupakan konsep ketuhanan, yang melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan tuhannya, manusia dengan manusia, maupun manusia dengan alam.

Di dalam kawasan Sumbu Filosofis Jogja, terdapat situs-situs sejarah yang mendukung konsep Sumbu Filosofi.

1. Panggung Krapyak


Dibangun pada Tahun 1782 pada mas pemerintahan Sultan HB I, bangunan Panggung Krapyak ini berkaitan dengan siklus kehidupan.

Sebab merepresentasikan rahim di mana kehidupan pertama kali muncul dan dimaknai sebagai awal perjalanan hidup manusia.

Perjalanan dari panggung Krapyak menuju keraton mewakili konsepsi sangkan (asal) dan proses pendewasaan manusia.

Panggung Krapyak ini terletak kurang lebih 2 km dari Keraton Yogyakarta. Panggung Krapayak ini memiliki bentuk persegi dengan tinggi 10 meter, lebar 13 meter, dan panjang 13 meter.

Panggung Krapyak ini terdiri dari dua lantai yang dahulu dihubungkan dengan dengan tangga kayu, bangunan ini dahulu digunakan oleh sultan untuk menyaksikan prajurit atau kerabatnya dalam berburu (ngrapyak) rusa.


2. Beteng, Plengkung, dan Pojok Beteng


Beteng, Plengkung, dan Pojok Beteng dibangung pada tahun 1782-1787 dan 1809. Desain dari beteng pertahanan ini menggabungkan elemen Jawa dan Eropa.

Plengkung Nirbaya atau yang disebut dengan Plengkung Gading merupakan ruas jalan menuju tempat peristirahatan terakhir para sultan di Pajimatan Imogiri.

Maka dari itu, setiap Raja yang bertakhta maupun keluarga intinya dilarang untuk melewati jalur tersebut.

Plengkung merupakan pintu gerbang yang menghubungkan Kompleks Kraton dengan dunia luar.

3. Kompleks Keraton


Keraton Jogja dibangun dengan konsep tata letak yang mengacu pada makna simbolis peradaban Jawa yang telah dikembangkan dan disempurnakan pada periode Kerajaan Mataram di abad ke-16 M.

Pusat Keraton adalah tempat yang paling sakral yang diyakini sebagai titik temu antara dunia makrokosmos dan mikrokosmos.

Kediaman Sultan berada di bagian inti Keraton yang mana terdapat bangunan-bangunan sakral tempat diselenggarakannya acara dan juga tempat disimpanya api abadi.

4. Tamansari


Tamansari adalah kompleks taman kerajaan utama dan dilengkapi dengan kolam buatan, taman kecil, rumah, dapur, masjid, dan bangunan lainnya.

Kompleks ini berfungsi sebagai tempat istirahat, rekreasi, tempat meditasi, dan juga ibadah keagamaan.

Selain itu Tamansari juga berfungsi sebagai bangunan pertahanan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.


Sultan Hamengkubuwono I memprakarsai pembangunan Tamansari pada tahun 1758-1765 Masehi.

5. Kagungan Dalem Masjid Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (Masjid Gedhe)


Maasjid Gedhe yang terletak di barat Alun-alun utara ini dibangun pada Tahun 1773 dengan gaya arsitektur Hindu Jawa.

Selain digunakan untuk tempat sholat Masjid Gedhe ini juga digunakan untuk acara-acara penting dan festival, masjid ini juga memiliki arti penting bagi masyrakat setempat dan Keraton.

6. Pasar Beringharjo


Pasar yang terletak di sebelah timur dari Sumbu Filosofi Jogja ini memiliki jarak kurang lebih 500 m di utara dari Keraton Jogja.

Tata letak ini sesuai dengan poros dari keraton hingga Tugu yang mencerminkan Sultan untuk melindungi dan mengayomi rakyat.

Dengan konsep tata letak tersebut mengharuskan Sultan menyediakan Pasar di Timur Laut dari Kraton.

7. Kompleks Kepatihan


Beberapa upacara penting berlangsung di kompleks ini termasuk upacara pernikahan kerajaan. selain digunakan untuk upacara pernikahan kerajaan.

Selain itu Sultan juga berkewajiban memfasilitasi masyarakat agar dapat hidup lebih baik dengan menyediakan materi dan pengayoman spiritual.

Penyediaan materi disimbolkan dengan fasilitas ekonomi, yaitu pasar beringharjo, dan juga fasilitas pemerintahan, berupa Gedung Kepatihan.

Sementara untuk pengayoman spiritual dicerminkan oleh Masjid Gedhe.


8. Tugu Golong Gilig, Pal Putih atau De Witte Paal


Tugu ini berbentuk tiang silinder setinggi 25 meter dengan bulatan di atasnya, Tugu ini disebut Golog Gilig, karena memiliki puncak yang berbentuk bola dan memiliki badan tugu yang berbentuk kerucut terpancung yang berbentuk bulat panjang (gilig).

Secara filosofis, Tugu golog gilig melambangkan bersatunya seluruh kehendak untuk menghadap Sang pencipta.

Tugu Pal Putih ini memiliki warna putih yang melambangkan kesucian hati yang harus menjadi dasar bagi upaya itu.

Nah, kekayaan filosofi ini hendaknya tidak berhenti sebagai simbol belaka, namun bisa digunakan sebagai sumber kesadaran akan makna hidup. (Bayu Prambudi Susilo)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Garis Imaginer Yogyakarta #tak lekang waktu #Sumbu Filosofi Jogja #Gunung Merapi #plengkung #benteng #Panggung Krapyak #Warisan Budaya #keraton jogja #UNESCO #Mengenal #tugu jogja