RADAR JOGJA-Sungai Gajahwong adalah sungai yang membelah Kota Yogyakarta.
Bagian hulu berada di lereng Merapi Kabupaten Sleman, sedangkan bagian hilir berada di Kabupaten Bantul.
Panjangnya mencapai 22,81 kilometer atau 14,17 mi. Sungai ini merupakan ekosistem perairan yang keberadaanya sangat dipengaruhi oleh aktivitas atau kegiatan di sekitarnya.
Konon dulu sungai ini memiliki legenda yang menceritakan tentang gajah dan manusia.
Berikut ini merupakan cerita Kali Gajahwong.
Legenda Kali Gajahwong mengisahkan tentang asal usul penamaan Kali Gajah Wong alias sungai yang terletak di Yogyakarta.
Sungai tersebut dulunya merupakan tempat seorang abdi dalem Kerajaan Mataram memandikan gajah milik sultan.
Pada zaman dahulu, berdirilah Keraton Mataram yang sangat megah di Kotagede.
Lebih tepatnya berada 7 kilometer arah tenggara dari Kota Yogyakarta.
Sultan Agung adalah pemimpin Kerajaan Mataram.
Ia memiliki ribuan prajurit, termasuk pasukan berkuda dan pasukan gajah.
Tak hanya itu saja, Sultan Agung juga memiliki banyak abdi dalem yang setia.
Satu di antaranya adalah Ki Sapa Wira.
Setiap pagi, Ki Sapa Wira memandikan gajah milik Sultan Agung yang bernama Kyai Dwipangga.
Ia selalu memandikan Kyai Dwipangga dengan lembut di sungai dekat Keraton Mataram.
Karenanya, gajah dari Negeri Siam ini sangat menurut dan halus kepada Ki Sapa Wira.
Pada suatu hari, Ki Sapa Wira tak bisa memandikan Kyai Dwipangga.
Sebab, tangannya sedang sakit, sehingga ia tak bisa bergerak bebas.
“Aduh, bagaimana ini. Aku tak akan bisa memandikan Kyai Dwipangga dengan bersih bila tanganku sakit,” ucapnya kesal.
“Kalau begitu, bagaimana kalau aku saja yang menggantikanmu memandikan gajah milik Sultan Agung, Mas?” tanya Ki Kerti Peyok yang ingin membantu kakaknya.
Ia mulai menggosok-gosok bada Kyai Dwipangga.
Tiba-tiba saja, hujan turun dengan derasnya.
Tanpa ia sadari, banjir bandang datang dari arah utara.
Ki Kerti Peyok da Kyai Dwipangga tak kuasa menahan derasnya arus kali.
“Tolong! Tolong!” teriak Ki Kerti Peyok sambil melambai-lambaikan tangannya.
Karena hujan sangat deras, tak ada satu pun yang mendengar suaranya.
Ki Kerti Peyok dan Kyai Dwipangga pun hanyut hingga ke Laut Selatan.
Mereka pun mati karena tak ada yang memberikan pertolongan.
Untuk mengenang peristiwa tersebut, Sultan Agung menamai sungai itu Kali Gajah Wong karena telah menghanyutkan gajah dan orang.
Raka Meda
Dari berbagai sumber