RADAR JOGJA - Untuk menjadi negara yang merdeka sepenuhnya, Indonesia telah melalui berbagai perjalanan panjang, mulai dari perjuangan melawan penjajahan, menyatukan negara kepulauan.
berbagai perubahan dialami oleh negara ini, salah satunya adalah perubahan bentuk negara dari awalnya republik menjadi serikat yang kemudian kembali lagi menjadi republik.
Setelah merdeka pun, masyarakat Indonesia masih terkena hambatan dan rintangan bahkan sampai saat ini.
Pada saat sekolah kita selalu diajarkan bahwa Presiden RI diurutkan dari Soekarno, Soeharto, Bacharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie), Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan presiden kita saat ini yaitu Joko Widodo.
Padahal ada 2 pemimpin lain yang sempat memimpin negara ini.
Orang tersebut salah satunya adalah Sjafruddin.
Meskipun hal itu menjadi perdebatan sejarah Republik Indonesia (RI).
Namun sosok Sjafruddin pernah berjasa dalam kepemimpinan pemerintahan darurat sejarah RI.
Ia memimpin pemerintahan darurat Indonesia (PDRI) dari bukittinggi pada 19 Desember 1948-13 Juli 1949,.
Hal itu dikarenakan Sokarno-Hatta dan separuh anggota kabinet, saat itu tengah ditangkap oleh Belanda pada agresi militer kedua dengan menaklukan Daerah Istimewa Yogyakarta (DI Yogyakarta).
Dalam pemerintahannya ia mendorong Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia dan menghadirkan perjanjian Roem-Royem.
Selain hal tersebut, Sjafruddin juga memberikan banyak kontribusi kepada bangsa Indonesia seperti menjadi menteri keuangan dalam kabinet Hatta.
Selain Sjafruddin, tokoh lain yang memiliki peran serupa adalah Mr Assaat Datuk Mudo.
Dia menjadi ketua BP-KNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat) terakhir sebelum KNIP ini dibubarkan, kemudian ditugasi sebagai pejabat presiden RI di Kota Yogyakarta.
Namun ia bukan merupakan presiden yang sesungguhnya melainkan Acting Presiden.
Sjafruddin pernah memimpin Indonesia selama dua tahun yaitu 1949-1950 dan berhasil menandatangani pendirian universitas kenamaan Indonesia yaitu Universitas Gajah Mada (UGM).
Yakni pada masa Indonesia berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS).
Ia menyelamatkan Indonesia dari dikuasai kembali oleh Belanda, setelah itu ia mengembalikan kembali jabatan kepada Soekarno pada 15 Agustus 1950. (Aina Puspita Ningrum)
Editor : Meitika Candra Lantiva