RADAR JOGJA - Di jantung kota Yogyakarta, terdapat sebuah titik yang dikenal sebagai Titik Nol Yogyakarta.
Lokasi ini menjadi pusat orientasi dan referensi geografis bagi kota Yogyakarta. Namun, di balik titik ini, terdapat rangkaian sejarah dan makna budaya yang menarik untuk diketahui.
Titik Nol Yogyakarta terletak tepatnya di depan Gedung Agung perempatan Jalan Ahmad Dahlan, Jalan Senopati, Jalan Ahmad Yani dan Jalan menuju Alun-alun Utara.
Monumen sederhana yang hanya berupa tanda batu ini sebenarnya memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang.
Sejarah Titik Nol Yogyakarta bermula pada tahun 1755, ketika Kesultanan Mataram terpecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Kesultanan Yogyakarta, menetapkan titik tersebut sebagai pusat atau titik nol dari kota Yogyakarta yang baru didirikan.
Titik Nol Kilometer juga menjadi saksi sejarah penting di Indonesia. Pada saat 10 November 1945, tepat berada di depan Nol Kilometer Jogja, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari penjajah Belanda.
Kejadian tersebut, akhirnya diabadikan dalam patung proklamator di depan Gedung Agung yang bersebelahan dengan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Padar saat 1 Maret 1949 Titik Nol Kilometer Yogyakarta juga menjadi saksi untuk mengenang peristiwa serangan umum yang dilakukan pejuang Republik Indonesia kepada Belanda.
Titik Nol yang berada tepat di depan Keraton Yogyakarta juga semakin menegaskan posisinya sebagai pusat kota dan pusat aktivitas masyarakat.
Dari titik ini, segala aktivitas dan perkembangan kota Yogyakarta berpusat dan berawal.
Hingga saat ini, Titik Nol Yogyakarta tetap menjadi titik referensi dan penyesuaian bagi warga Yogyakarta maupun wisatawan yang berkunjung.
Monumen sederhana ini telah menjadi salah satu ikon budaya yang melekat erat dengan identitas kota Yogyakarta. (Akmal Haidar Alfath)
Editor : Winda Atika Ira Puspita