RADAR JOGJA - Sepak bola merupakan olahraga yang paling diminati hampir separuh dunia.
Bukan hanya kerjasama tim atau sekedar kompetisi mempertemukan klub-klub, lewat sepak bola masyarakat dapat menyampaikan pesan cinta, persatuan dan perjuangan melawan ketidakadilan.
Sepak bola sebagai alat perjuangan dalam menggugat ketidakadilan, sepanjang sejarah sepak bola itu sendiri telah mencatat banyak kesuksesan yang dicapai melalui pendekatan diplomatis sepak bola.
Selain itu, sebagai alat perjuangan sepak bola praktis untuk menyampaikan pesan kepada seluruh dunia.
Salah satu negara yang menggunakan sepak bola sebagai alat untuk menggugat ketidakadilan adalah Argentina.
Sejarah Panjang Sepak Bola Argentina: Menggugat Ketidakadilan
Argentina yang memiliki julukan La Albiceleste memiliki sejarah sepak bola yang panjang seiring dengan perjuangan mereka melawan ketidakadilan yang terjadi di negara mereka.
Perjuangan itu dapat dilihat pada piala dunia yang diselenggarakan FIFA pada 1978 yang mana Argentina pada waktu itu menjadi tuan rumah dari perhelatan sepak bola terbesar.
Ketika itu, Argentina sedang berada dalam rezim kediktatoran militer yang kejam dari Jorge Rafael Videla, yang mana dalam periode tersebut kejahatan HAM sedang berada pada puncaknya.
Korban yang menjadi sasaran kejahatan adalah para aktivis mahasiswa, serikat pekerja, jurnalis kritis dan seniman serta orang-orang yang aktif di gereja mengkampanyekan anti-kemiskinan.
Piala dunia 1978 pun dilaksanakan ditengah-tengah kontroversi masalah pelanggaran HAM yang terjadi pada saat itu di Argentina.
Lewat, perhelatan tersebut awalnya rezim Jorge Rafael Videla menggunakan momentum tersebut untuk mengubah citranya.
Sang diktator bahkan ingin agar perhelatan piala dunia dapat berjalan dengan lancar dan kalau bisa Argentina memenangkan kompetisi sepak bola dunia tersebut.
Namun, piala dunia yang diselenggarakan tidak penuh dikendalikan oleh rezim militer.
Upaya rezim dalam menekan pemain agar mencerminkan keadaan Argentina yang baik-baik saja tidak mampu untuk melawan fakta yang hadir pada pesan-pesan yang disampaikan di stadion saat itu.
Pesan Pembebasan dalam Sepak Bola Argentina
Ajang piala dunia 1978 menjadi salah satu alat perjuangan yang efektif bagi masyarakat Argentina saat itu dalam menyampaikan berbagai narasi perjuangan.
Berbagai narasi tersebut muncul dari berbagai aksi yang dilakukan suporter dengan menyanyikan lagu, atau membuat yel-yel yang didalamnya terdapat pesan-pesan pembebasan dari rezim diktator.
Selain itu, setiap gawang dicat bentuk lingkaran hitam di bawahnya sebagai pesan bahwa Argentina sedang berduka oleh karena rezim diktator Jorge Rafael Videla.
Stadion berubah menjadi tempat di mana teriakan dan nyanyian penolakan terhadap kebijakan-kebijakan rezim dan keinginan untuk perubahan lantang digaungkan ketika tim Argentina mencetak gol.
Narasi-narasi politik pembebasan yang digaungkan pada pertandingan piala dunia pada 1978 membawa wajah baru bagi dunia sepak bola.
Momen ini sebagai bentuk kolaborasi antara pemain dan penonton dalam menyumbang ide dan gagasan pembebasan melawan ketidakadilan yang terjadi.
Pada perjalanannya, salah satu pesan pembebasan yang di bawah oleh sepak bola Argentina adalah julukan tango pada tim sepak bolanya.
Yang mana, tango pada zaman dahulu dilarang karena dianggap sebagai musik dan tarian budak.
Akan tetapi, hal itu dibantah dan dijadikan julukan bagi timnas Argentina sebagai bentuk perlawanan terhadap setiap diskriminasi.
Perjalanan panjang Argentina dalam sejarah sepak bola yang dijadikan bukan sekedar olahraga atau kompetisi melainkan sebagai alat pembebasan berkembang dan mempengaruhi pandangan dunia terhadap sepak bola. (Sergio Jubilleum Asqueli)
Editor : Meitika Candra Lantiva