Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

SMA 17 (I) Jogja Masuk Cagar Budaya Bernilai Tinggi, Bangunannya Kini Rusak karena Konflik Perebutan Lahan

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 9 Juni 2024 | 13:25 WIB
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - SMA 17 (I) Jogja merupakan salah satu situs cagar budaya (CB) yang mempunyai nilai sejarah tinggi. Meski bangunan fisiknya kini sudah rusak akibat konflik, di tempat itulah para tentara pelajar dan pemuda di Yogyakarta ditempa untuk ikut mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY Yusri Damayati menyampaikan, bangunan SMA 17 (I) Jogja merupakan cagar budaya yang ditetapkan dengan SK Gubernur No 210/KEP/2010. Penetapan kawasan cagar budaya itu dilakukan pada 9 Februari 2010.

ISTIMEWA
ISTIMEWA


SMA swasta ini terletak di Jalan Tentara Pelajar No 24, Bumijo, Jetis, Jogja. Yusri mengatakan, bangunan itu diperkirakan dulunya difungsikan sebagai kantor Belanda. Dilihat dari corak arsitekturnya, bangunan ini merupakan perluasan kantong permukiman orang belanda. "Perkiraanya dibangun sekitar tahun 1920 hingga akhir 1930-an," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (7/6).


Pada 1942 setelah Jepang menduduki Yogyakarta, bangunan itu pernah dijadikan sebagai markas oleh tentara imperial Jepang. Selanjutnya pada 1945 setelah Indonesia merdeka, bangunan itu juga digunakan sebagai asrama tentara pelajar.


"Sekitar tahun 1949, bangunan itu digunakan sebagai kantor Asrama Brigadir 7. Bangunan itu juga pernah digunakan sebagai Kantor Budi Oetomo," ungkapnya.


Hingga pada 1984, bangunan ini dihibahkan pada Yayasan Pengembangan Pendidikan 17. Tidak berselang lama, kemudian dibangunlah institut pendidikan SMA 17 (I) Jogja.


Pada perkembanganya, tahun 2012-2013 terjadi konflik kepemilikan di lahan tersebut. Mirisnya, konflik sampai terjadi kerusakan hingga menyebabkan bangunan fisik sekolah rusak. "Konflik itulah awal mula SMA 17 (I) Jogja perlahan hilang dari peradaban," ungkapnya.

GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA


Konflik yang terjadi merupakan konflik antaryayasan dengan perseorangan yang mengaku memilik tanah itu. Walaupun kondisi bangunan sudah rusak, pihaknya menyampaikan status bangunan tersebut masih tercatat sebagai cagar budaya. "Namun itu kemungkinan akan dikaji ulang oleh Pemprov DIY, apakah memang akan tetap dipertahankan atau harus ada perubahan," tuturnya.


Bukti SMA 17 (I) Jogja merupakan cagar budaya dan bangunan bersejarah adalah diorama tempat itu dapat ditemukan di Museum Benteng Vredeburg. Dalam diorama itu, SMA 17 (I) Jogja digunakan sebagai tempat melaksanakan latihan kemiliteran bagi anak sekolah dan pemuda pada masa kependudukan Jepang, lebih tepatnya di Lapangan Bumijo.


Yusri berharap, bangunan tersebut dapat dipertahankan sebagai cagar budaya, melihat nilai sejarahnya yang tinggi. Namun terkait kebijkan itu, pihaknya hanya mengikuti arahan pemprov, dalam hal ini kebijakan dari Gubernur HB X. (oso/laz)

Editor : Satria Pradika
#Yogyakarta #oldies #SMA 17 #Museum Benteng Vredeburg #cagar budaya #DIY #SMA 17 I Jogja #jepang #Jogja