RADAR JOGJA - Mau heran tapi ini Sleman! Sebuah candi menampakkan diri pada seorang Belanda yang hendak mencari lahan perkebunan tebu di tengah-tengah perbukitan Boko.
Namun, yang membuat penemuan ini semakin menarik adalah budaya yang diusung oleh candi ini, yang tampaknya lebih kuno dari periode Hindu-Buddha.
Candi yang kini kita kenal sebagai Candi Ijo ini mengundang perbandingan dengan Situs Gunung Padang, sebuah situs megalitikum kuno di Indonesia yang menimbulkan kontroversi terkait usia sebenarnya.
Candi Ijo berada di Dusun Nglengkong, Kelurahan Sambisari, Kecamatan Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi Ijo berlokasi di perbukitan Baturagung yang masih satu perbukitan dengan Candi Barong dan Ratu Boko. Bangunan induk Candi Ijo ini memiliki arah hadap ke barat.
Berdasarkan informasi dari Youtube ASISI Channel, Candi Ijo diduga dibangun sekitar periode yang sama dengan penandatanganan perjanjian damai 30 tahun antara Khan Omurtag dari Bulgaria dengan Kekaisaran Bizantium.
Tidak seperti kebanyakan candi Hindu-Buddha di Indonesia, Candi Ijo mengungkapkan keberadaan konsep peribadatan yang berbeda.
Leluhur Austronesia diyakini memiliki konsep sendiri mengenai peribadatan, dengan keyakinan bahwa roh nenek moyang berdiam di gunung-gunung dan mereka memujanya melalui punden berundak.
Bahkan, sebelum prinsip Vastu Shastra India tertulis, leluhur kita telah membangun punden berundak raksasa di Situs Gunung Padang dengan gaya mereka sendiri.
Menurut keterangan yang ditemukan pada plang candi, nama "Ijo" diyakini berasal dari kata "wuang hijo" dalam Prasasti Poh (906 M), meski hal ini masih menjadi dugaan tanpa bukti yang kuat.
Namun, apa yang menjadi daya tarik utama dari Candi Ijo adalah pemandangan alam yang menakjubkan, terutama matahari terbenam yang memukau pengunjungnya.
Terletak di atas bukit dengan ketinggian sekitar 425 meter di atas permukaan laut, dengan luas mencapai 0,8 hektare, Candi Ijo menawarkan panorama alam yang memesona bagi para pengunjungnya.
Selain panorama alam yang memukau, Candi Ijo juga menyimpan kekayaan sejarah yang luar biasa.
Dari penemuan artefak berupa arca Nandini dan lingga-yoni, jelas terlihat bahwa Candi Ijo bernapaskan Hindu Siwa.
Namun, keunikan candi ini terletak pada strukturnya yang berbeda dari candi Hindu-Buddha pada umumnya.
Dengan total 11 teras dan 17 gugusan candi, Candi Ijo menawarkan pengalaman berbeda bagi para pengunjung yang ingin menyelami keajaiban sejarah dan keindahan alam Sleman.
Setelah melalui proses restorasi pada tahun 1997, Candi Ijo akhirnya menampakkan dirinya dalam kejayaannya yang sesungguhnya.
Bangunan candi ini diduga dibangun dengan keterampilan yang sejajar dengan Situs Gunung Padang, menambah misteri dan daya tarik tersendiri bagi peneliti dan pengunjung yang tertarik dengan kekayaan sejarah Indonesia.
Editor : Bahana.