Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kemenag Gandeng BRIN Kaji Pemasangan Kembali Payung di Stupa Induk Candi Borobudur

Naila Nihayah • Kamis, 21 Maret 2024 | 20:00 WIB

 

BERDIRI KOKOH: Inilah penampakan struktur catra hasil rekonstruksi Theodore van Erp. Dipasang pada stupa induk sekitar 1910, lalu dibongkar kembali.
BERDIRI KOKOH: Inilah penampakan struktur catra hasil rekonstruksi Theodore van Erp. Dipasang pada stupa induk sekitar 1910, lalu dibongkar kembali.
MUNGKID – Pemerintah terus menggodok wacana pemasangan kembali catra atau payung yang seharusnya berada di atas stupa induk Candi Borobudur.

Apalagi wacana tersebut sudah mengemuka sejak lama. Kemenag RI bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pun getol mengkaji pemasangan catra itu.

Direktur Jenderal Bimas Buddha, Kemenag RI Supriyadi menjelaskan, kajian soal catra ini sudah diamanahkan pemerintah melalui rakornas percepatan pembangunan lima destinasi pariwisata super prioritas (DPSP) Desember 2023 lalu.

“Masalah catra adalah bagian dari Heritage Impact Assessment (HIA) Borobudur,” ujarnya, Rabu malam (20/3/2024).

Kemenag pun segera berkomunikasi dengan BRIN untuk melakukan kajian dampak cagar budaya tersebut.

Dengan melibatkan sejumlah pakar dari berbagai keilmuan.

Tidak hanya melibatkan dari sisi agama, tapi juga budaya, masyarakat, struktur, arsitek, dampak ekonomi wisata, dan lainnya.

Sebelumnya, Kemenag sudah melaksanakan forum group discussion (FGD) untuk mematangkan studi lapangan yang saat ini dilakukan.

Hasil dari studi lapangan ini nantinya akan dikirimkan kepada UNESCO. Harapannya, hasil tersebut dapat diperoleh akhir Maret ini.

“Kalau (catra) bisa terpasang, umat Buddha akan bersyukur,” sebutnya.

Hanya saja, pemasangan kembali catra di stupa induk tersebut membutuhkan waktu. Sebab, kajian ini perlu kehati-hatian.

Dia meyakini, setiap kajian yang dilakukan akan mendapatkan solusi, mitigasi, dan tindaklanjutnya.

Dengan melibatkan semua unsur, wacana pemasangan catra itu bisa direalisaikan.

Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah, BRIN M Irfan Mahmud mengutarakan, sejauh ini pihaknya sudah melakukan studi literatur dan membandingkan berbagai dokumentasi tertua, seperti foto serta referensi ilmiah.

“Kami juga sudah ke lapangan untuk mengecek catra,” bebernya.

BRIN bakal terus memastikan dan mengawal pengkajian dalam proses pemasangan catra.

Dia tidak menampik, ada beberapa masalah yang harus segera dipikirkan. Seperti dokumentasi yang harus disesuaikan dan diharmonisasikan.

Mengingat batu catra yang saat ini berada di kompleks Museum dan Cagar Budaya (MCB) tidak seluruhnya asli.

Nantinya, BRIN bakal membuat rekonstruksi dan setidaknya tidak bertentangan dengan outstanding universal value (OUV) Candi Borobudur.

“Kami berharap tim ini bisa merekomendasikan setidaknya bentuk (catra) yang bisa dipasang. Mungkin tidak sama 100 persen,” jelasnya.

Irfan menuturkan, BRIN memeriksa terkait dengan bahan dan potensi sambungan di atas catra. Berdasarkan kajian awal, ternyata ada indikasi tambahan di puncak catra.

“Ada elemen yang seharusnya masih ke atas. Apakah itu yasti atau lainnya, kami masih mendiskusikannya agar bisa memberikan rekomendasi sesuai harapan,” imbuh dia.

Kepala Sangha Theravada Indonesia Bante Sri Pannavaro Mahathera mendukung penuh pemasangan catra tersebut.

Dia menyebut, catra itu semula memang sudah ada dan terpasang di stupa induk candi.

Baca Juga: Cara Memburamkan Chat di WhatsApp Web Agar Tidak Bisa Dibaca Orang Lain

Terlebih, BRIN sudah meneliti segala kemungkinan yang terjadi jika catra tersebut dipasang.

“Catra itu awalnya sudah ada, bukan membuat yang baru, (harapannya) bisa dinaikkan. Kalau tidak dipasang pun tidak apa-apa. Kalau dipasang, saya bersyukur,” katanya.

Dia mengumpamakan, catra di Candi Borobudur ibarat sebuah peci di atas kepala. Artinya dapat menjadi pelindung di bawahnya.

Umat Buddha pun ingin mengembalikan catra itu di tempat semula, bukan menggantinya dengan yang baru. Meski tidak persis seperti sebelumnya.

Editor : Bahana.
#kemenag #candi borbudur