Garis imajiner ini menghubungankan antara Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan.
Selain garis imajiner, Yogyakarta juga memiliki sumbu filosofis yaitu Tugu, Keraton, dan Panggung Krapyak.
Sumbu filosofis tersebut melambangkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia serta manusia dengan alam.
Bangunan keraton sebagai poros antara Gunung Merapi dan Pantai Selatan karena berada di tengah-tengah.
Sri Sultan Hamengku Buwono I yang membuat desain arsitek Keraton Yogyakarta. Keraton dibangun pada 9 Oktober 1755.
Dalam desain pembangunan Sri Sultan mengatur tata letak kota yang ditarik garis lurus.
Garis yang memanjang dari utara ke selatan yang menghubungkan Gunung Merapi di utara dengan Pantai Parangkusumo atau Pantai Parangtritis melewati Keraton Yogya yang memiliki makna filosofis tinggi.
Secara filosofis garis vertikal dari selatan ke utara yaitu melambangkan hubungan manusia kepada Sang Pencipta.
Sedangkan laut selatan sebagai titik terendah dan Gunung Merapi lebih tinggi yang melambangkan sikap manusia semakin dekat dengan Sang Pencipta.
Bagian garis dari selatan ke utara merupakan perjalanan Sangkaning Dumadi yaitu proses perjalanan manusia menuju eksistensi.
Sedangkan dari utara ke selatan bermakna perjalanan manusia kembali ke Sang Pencipta yakni Paraning Dumadi.
Sumbu filosofis sendiri merupakan sumbu nyata yang membentang dari utara ke selatan dalam satu garis lurus dengan jalan yang menghubungkan Tugu Golong Gilig, Keraton, dan Panggung Krapyak.