KULON PROGP - Ekstrakurikuler Polisi Cilik (Pocil) di SD Negeri (SDN) Butuh, Kalurahan Bumirejo, Kapanewon Lendah, tak hanya menjadi sarana penyaluran minat siswa, tetapi juga melahirkan prestasi hingga tingkat provinsi melalui paduan disiplin, kreativitas, dan seni budaya.
Kepala Sekolah SDN Butuh Sunardi mengatakan, ekstrakulikuler pocil berawal dari ektrakurikuler reguler baris berbaris. Pada 2016, ektrakurikuler mulai dirintis oleh Polsek Lendah.
"Polisi cilik mulai dikenalkan oleh Polsek Lendah" ucap Sunardi, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga: Kehadiran Penonton di Laga Kandang Belum Maksimal, PSIM Jogja Akui Pendapatan Klub Ikut Terdampak
Sunardi menjelaskan, awalnya kegiatan pocil ditujukan pada sosialisasi tertib berlalu lintas sejak dini.
Hal itu, dibimbing oleh personel Polsek Lendah yang rutin melakukan pembinaan setiap minggu.
Kegiatan kemudian berlanjut pada pengembangan ektrakurikuler yang mengadaptasikan unsur baris-berbaris dengan kepolisian. Saat itulah, muncul ektrakurikuler Polisi Cilik.
Berbeda dengan ekstra baris-berbaris biasa, pocil tak hanya mengunggulkan kedisiplinan.
Justru pocil mengusung tema disiplin, dengan paduan kreativitas serta seni di dalamnya. Hal itulah yang membuat siswa menaruh minat lebih terhadap ekstra.
"Minatnya luar biasa, padahal satu pleton hanya 31 siswa jadi banyak yang menjadi cadangan," ungkapnya.
SDN Butuh memiliki 126 siswa, hampir separo siswa telah mengikuti ekstrakurikuler itu. Ketertarikan siswa terletak pada keunikan ekstra tersebut.
Pasalnya, saat mengikuti beragam kejuaraan pleton SDN Butuh memiliki ciri khas unik.
Paling menonjol berupa pakaian khas polisi dengan balutan unsur budaya. Bagi siswa ,hal itu menjadi pemantik semangat untuk mengikuti ekstra.
Penampilan SDN Butuh dalam lomba baris-berbaris juga menjadi sorotan. Setiap penampilan, selalu disertai dengan pertunjukan formasi baris.
Tak hanya menuntut kerapian, baris-berbaris ditampilkan dengan atraksi budaya yang terkonsep.
Penampilan yang memukau itulah, membuat SDN Butuh banyak dikenal. Dukungan sekolah dan wali murid, membuat pleton SDN Butuh mampu mendulang kejuaraan di tingkat kabupaten hingga provinsi.
"Juara dua tingkat provinsi sudah menjadi hal biasa bagi pleton SDN Butuh," ungkapnya. (gas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita