KEBUMEN – Selama 13 tahun, SMA Negeri (SMAN) 1 Klirong menyisipkan muatan lokal membatik ke dalam pola pembelajaran.
Selama itu pula siswa terbiasa dengan dunia batik. Praktis hampir setiap pekan siswa dibekali materi tentang batik. Hingga mewujudkan sebuah galeri batik.
Sebab, membatik bukan sesuatu yang aneh di sekolah tersebut. Guru dan siswa begitu larut dengan proses membatik.
Mereka terbiasa melahirkan karya batik yang dituangkan ke berbagai media seni. Dari karya itu semua telah tersimpan rapi di galeri sekolah khusus batik.
"Belum lama kami resmikan galeri batik. Namanya Kawung Wolu. Semua hasil kreativitas siswa," ungkap Kepala SMA Negeri 1 Klirong Elok Nur Faiqoh, Jumat (28/11).
Galeri Kawung Wolu ini menyimpan sedikitnya 200 karya siswa. Semua menyangkut soal batik.
Karya tersebut kemudian dirancang untuk berbagai macam produk, seperti gaun, baju, topi, tas, dompet, hiasan dinding, lampion dan pernak-pernik lain.
"Sering dibawa buat pameran di sekolah maupun luar," ucapnya.
Sebagai bentuk komitmen, SMAN 1 Klirong bahkan menggunakan hasil karya batik setiap siswa untuk digunakan sebagai seragam identitas sekolah.
Konsepnya setiap siswa diarahkan untuk membatik dengan motif yang telah ditentukan.
Setelah jadi satu lembar kain batik, karya tersebut dijahit untuk seragam identitas.
"Anak diberi tugas batik, durasi pembuatan sekitar tiga bulan. Motifnya berisi tentang kekayaan Kebumen," bebernya.
Bagi Elok, di era serba digital seperti sekarang, kecakapan tenologi bukan segalanya. Justru, penting bagi anak didik saat ini tidak lupa dengan akar budaya.
Lewat proses kreatif membatik, diharapkan dapat menumbuhkan pendidikan karakter atas dasar rasa cinta pada tradisi bangsa.
Lebih dari itu membatik juga menjadi bekal siswa dalam membuka peluang wirausaha. "Kami berikan keleluasaan ke anak. Bagaimana mereka berekspresi lewat batik," ujarnya.
Guru Seni Rupa SMAN 1 Kliong Tusina menyampaikan, aktivitas membatik di sekolah mulai digalakan sekitar 2012.
Kala itu pemerintah memiliki program unggulan, yakni Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL).
Berawal dari program ini, membatik menjadi kebiasaan di sekolahnya. "Kalau dihitung dari dulu sampai sekarang sudah ada sekitar 3.744 karya batik dari siswa," sebutnya.
Dari seni batik, SMAN 1 Klirong sering membawa tropi juara di bidang kriya. Terakhir berhasil membawa pulang juara 1 FLS2N tingkat kabupaten.
Warga sekolah sepakat melestarikan budaya, yaitu batik dapat dimulai dari diri sendiri.
Lewat batik, sekolah ingin menyampaika pesan bahwa batik harus tetap dilestarikan sebagai warisan adiluhung bangsa. (fid/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita