BANTUL – Anggota Komisi D DPRD DIY Tustiyani menyoroti soal ijazah yang belum diambil di sekolah. Bukan karena sekolah menahannya.
Alasannya rata-rata lantaran banyak siswa belum melengkapi persyaratan administrasi. Misalnya, seperti cap tiga jari dan menyerahkan ijazah SMP untuk syarat pembuatan ijazah SMA.
“Jadi saya tekankan kepada kepala sekolah agar menyampaikan ke siswa, kalau Cuma cap tiga jari saja gratis,” ungkap Tustiyani saat Sosialisasi Beasiswa Pendidikan Menengah di SMK Ma’arif 1 Kretek Bantul, Senin (29/9/2025).
Selain kelengkapan proses pembuatan ijazah dan mengurus administrasi ijazah SMA/SMK juga penting. Tujuannya, mengantisipasi agar tidak muncul kendala. Di antaranya, kepala sekolah yang sudah pensiun.
“Kalau seperti itu kan repot. Mencarinya susah. Lebih baik nanti cap tiga jari dan melengkapi administrasi lainnya,” tambah perempuan pertama yang pernah menjadi ketua DPRD Kabupaten Bantul ini.
Soal alasan siswa belum mengambil ijazah karena keterbatasan biaya, Pemda DIY siap memberikan bantuan melalui beasiswa jaminan kelangsungan pendidikan (JKP).
Di samping itu, ada beberapa program beasiswa lainnya yang bisa membantu siswa SMA/SMK dalam mendukung keberlangsungan proses belajar di sekolah.
Staf Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Widayatun menjelaskan, selain beasiswa JKP, ada dua jenis beasiswa SMA/SMK lainnya.
Keduanya adalah beasiswa kartu cerdas (Karcer), dan beasiswa Retrieval.
Beasiswa JKP ditujukan bagi alumni SMA/SMK swasta di DIY yang masih memiliki tunggakan biaya administrasi sekolah.
Mereka berasal dari keluarga tidak mampu. Besarannya bantuan yang diberikan maksimal Rp 4 juta per siswa.
“Misalnya belum bisa mengambil ijazah bisa mengajukan beasiswa JKP lewat sekolah, nanti akan dibantu,” jelasnya.
Sedangkan beasiswa Karcer diberikan kepada siswa SMA/SMK di DIY yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Tahun ini, ada sejumlah 5.200 siswa menerima beasiswa tersebut. Setiap siswa mendapatkan bantuan Rp 1,5 juta per tahun.
Adapun beasiswa Retrieval diberikan kepada lulusan SMP sederajat di DIY yang tidak melanjutkan ke jenjang SMA/SMK atau mengalami putus sekolah.
Tahun ini, sebanyak 100 siswa menerima bantuan. Nilainya sebesar Rp 3 juta per siswa.
Menurut Widayatun, tujuan beasiswa itu guna menjamin keberlangsungan belajar peserta didik dari keluarga kurang mampu. Atau keluarga miskin dalam rangka meningkatkan angka partisipasi pendidikan menengah.
“Ini sangat penting. Bisa dipakai untuk kebutuhan sekolah, transport mereka dan lainnya,” terang Widayatun. (cin/kus)
Editor : Winda Atika Ira Puspita