JOGJA - Pengurus Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 Bantul mendapati siswa membawa rokok saat dilakukan sidak di asrama. Pihak sekolah kemudian akan memperketat barang masuk-keluar terutama saat sesi jam kunjung wali siswa.
Kepala Sekolah SRMA 19 Bantul Agus Ristanto mengatakan pentingnya trilogi pendidikan yakni keterlibatan keluarga, masyarakat dan sekolah yang harus sefrekuensi dalam mengasuh anak. Hal itu agar tiga pihak tersebut dapat sepaham dalam pola mendidik siswa.
"Jangan sampai kami di sekolah kukuh dengan tata tertib yang baik, namun tidak didukung dengan pola asuh ketika di rumah atau di masyarakat sekitar," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (15/8).
Ia bekerja sama dengan wali asuh maupun wali asrama untuk melakukan sidak secara rutin di kamar asrama siswa SR. Dalam sidak, pengurus masih menemukan rokok yang diduga milik siswa."Itu langsung kami sita," tandasnya.
Ia belum mengetahui secara pasti rokok yang dibawa siswa berasal dari mana. Namun, ada dugaan rokok tersebut dititipkan ketika sesi jam kunjung wali siswa. Kesempatan itu dinilai cukup logis menjadi celah masuknya rokok dan barang kebutuhan lainnya."Saya sudah koordinasikan dengan pengurus lain, besok pokoknya keluar-masuk barang dari depan wajib dicek," ucapnya.
Aturan di SR tidak memperbolehkan siswa merokok di lingkungan sekolah. Tata tertib tersebut sudah disampaikan kepada para siswa."Nanti mereka akan kena sanksi berupa penilaian dan sebagainya ada di buku pedoman," bebernya.
Menurutnya, jenis barang terlarang yang ditemukan saat sidak sementara ini baru rokok. Kemudian terkait minuman beralkohol (mihol) ataupun barang lain tidak ditemukan. "Kami sudah berkolaborasi dengan pihak terkait sebagai antisipasi adanya pelanggaran terkait Napza," terangnya.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) DIJ Endang Patmintarsih menegaskan, terkait pelanggaran di SR menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan pengurus lainnya.
Terkait temuan puntung rokok di asrama siswa, ia mengimbau agar terus dilakukan sidak secara rutin. "Dari awal kami sudah memetakan mana sih anak yang memang pernah merokok, kemudian mereka diberi pendampingan dan diawasi," ujarnya.
Sebelum SR beroperasi, seluruh pengurus sekolah sudah menyadari bahwa siswa yang akan mereka urus berasal dari latar belakang yang berbeda. Semuanya adalah anak dengan kondisi keluarga kurang mampu. Karakter dan pergaulan juga bermacam-macam. "Tidak boleh bosan tidak boleh lengah (mengawasi) karena ya pelan pelan mengubah perilaku siswa," tuturnya. (oso/pra)
Editor : Heru Pratomo