JOGJA - Sebanyak 687 siswa SMKN 3 Jogja resmi dilantik sebagai Taruna Angkatan III.
Pelantikan ini menjadi bagian dari implementasi sistem pendidikan ketarunaan yang menekankan pembentukan karakter, sebagai pelengkap kompetensi teknis yang diajarkan di sekolah.
Kepala SMKN 3 Jogja Widada mengungkapkan, sistem pemdidikan telah menjadi pendekatan utama dalam menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan etika kerja kepada siswa, seiring dengan pendidikan vokasi berbasis keahlian yang mereka jalani.
"Kami tidak hanya mendidik mereka untuk terampil secara teknis, tetapi juga siap secara mental menghadapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat," ujarnya, Minggu (22/6/2025).
Menurutnya, pendekatan ketarunaan tersebut bisa diintegrasikan dalam keseharian siswa. Bukan hanya lewat kegiatan simbolik atau upacara semata.
Namun, dari delapan konsentrasi keahlian yang ada, seluruh siswa diwajibkan mengikuti proses pembentukan karakter ini. Mulai dari teknik pemesinan hingga produksi siaran televisi.
Baca Juga: 245 Pecatur dari Berbagai Daerah di Indonesia Berebut Piala GM Utut Adianto di Kebumen
"Industri kini menekankan pentingnya soft skills seperti kerja tim, komunikasi efektif, dan disiplin tinggi. Itu nilai-nilai yang menjadi inti dari sistem ketarunaan," jelasnya.
Diakuinya, pelantikan taruna tahun ini juga menjadi momen evaluatif bagi sekolah. Mengingat semakin kompleksnya tantangan dunia kerja.
Selain aspek teknis, sekolah ini juga menekankan pentingnya keseimbangan antara penguasaan teknologi dengan kesehatan mental dan sosial.
"Salah satu pesan bagi para siswa adalah pengelolaan waktu, disiplin pribadi, dan bijak menggunakan media sosial," pesannya.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari berbagai pihak, termasuk perwakilan dari Direktorat SMK Kemendikbudristek Dr Wardani Sugiyanto.
Dia menyebut sistem ketarunaan sebagai pendekatan yang sejalan dengan arah kebijakan pendidikan nasional.
"Di tengah kompleksitas zaman, anak-anak muda perlu fondasi karakter yang kuat. Ketarunaan ini jadi salah satu cara efektif untuk menanamkannya," katanya.
Pandangan serupa disampaikan perwakilan dari Disdikpora DIY Dr Wiwik Indriyani, pembentukan karakter bangsa tidak bisa instan dan membutuhkan model yang konsisten seperti yang dilakukan SMKN 3 Jogja.
"Kami lihat lulusan dari sini banyak yang berhasil masuk industri dengan cepat. Bukan hanya karena keterampilannya, tapi sikap dan etos kerja yang dibentuk sejak dini," ujarnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita