SLEMAN - Kejadian runtuhnya atap SD Negeri Kledokan karena sudah lapuk dan dimakan rayap jadi evaluasi. Terlebih saat ini, ada 374 sekolah dasar (SD) negeri di Kabupaten Sleman. Namun, sebanyak 70 persen di antaranya membutuhkan perbaikan bangunan fisik.
Sekretaris Disdik Sleman Sri Adi Marsanto menyebut, mayoritas SD tersebut belum pernah direnovasi sejak dibangun. Namun karena anggaran terbatas, sehingga digunakan strategi skala prioritas. “Bangunan yang berpotensi membahayakan keselamatan dan keamanan didahulukan," katanya di Kantor Disdik Kabupaten Sleman Jumat (16/5).
Pada APBD murni, lanjutnya, telah ada 69 sekolah yang diperbaiki. Sementara pada APBD perubahan, telah diajukan 19 SD dan 3 SMP yang diperbaiki dengan anggaran Rp 4,1 miliar.
"Itu masih menggunakan konsep pemerataan, bukan penuntasan. Jadi satu sekolah mungkin baru satu dua kelas yang diperbaiki," tambahnya.
Adi juga menyebut, telah dikeluarkan surat edaran agar satuan pendidikan bisa memberikan data terkini kondisi sekolah. Ini merupakan langkah antisipasi agar tidak ada lagi kejadian sekolah ambruk.
"Kami juga akan menyelenggarakan bimbingan teknis pada satuan pendidikan terkait kelayakan bangunan. Jadi bisa lebih cermat dalam melakukan penilaian," bebetnya.
Sementara itu, Plt Kepala Disdik Sleman Mustadi menjelaskan, untuk SD Negeri Kledokan akan segera dilakukan perbaikan. Pengerjaan sendiri dimulai pada 28 Mei dengan waktu sekitar tiga bulan.
"Kegiatan belajar dibagi menjadi sesi pagi dan sore. Kami memastikan agar hak para siswa tetap terpenuhi," katanya.
Anggaran untuk perbaikan sendiri mencapai Rp 350 juta. Direncanakan untuk memperbaiki dua atap ruang kelas, satu ruang guru, dan satu ruang kepala sekolah. Nantinya rangka atap yang sebelumnya kayu juga akan diganti menjadi baja ringan. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita