Unik! Respon Banyaknya Sampah Daun di Sekolah, Siswa Padmanaba Inovasi Buat Papan Partikel dari Limbah untuk Wilayah Rawan Gempa
Fahmi Fahriza• Jumat, 11 April 2025 | 05:45 WIB
Caption: Tim Arkalya SMAN 3 Jogja menunjukkan inovasi papan partikel yang dibuat menggunakan limbah daun Karetan di sekolah mereka.
JOGJA - Kejelian sekaligus ide kreatif mengubah sampah menjadi produk bernilai ekonomis, dilakukan oleh tim Arkalya dari SMAN 3 Yogyakarta atau Padmanaba.
Mereka adalah Tjakraningtyas Ayu Dewi Sekar Kinasih, dan Winvensen Avrizeight Kalyana Langgeng yang membuat produk bernama Inovasi Papan Partikel (Inparkel).
Tjakraningtyas atau yang biasa dipanggil Caca menyampaikan, bahwa di SMAN 3 Jogja ada pohon Karetan dengan limbah daun yang menumpuk, dan daun tersebut sulit untuk diuraikan.
"Dari sana kami berpikir untuk bisa mencari solusi atas menumpuknya volume sampah daun tersebut," katanya pada Radar Jogja, Kamis (10/4/2025).
Caca mengungkapkan, dalam praktiknya tim Arkalya mengubah daun Karetan menjadi papan partikel yang bisa digunakan untuk dinding yang bisa diaplikasikan di wilayah rawan gempa.
Dalam prosesnya, tim Arkalya juga sudah melakukan ujicoba di Laboratorium Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMAN 3 Jogja yang juga guru pembimbing tim Arkalya Didik Purwaka mengungkapkan, bahwa para siswa SMAN 3 Jogja memang sudah dibiasakan untuk dekat dengan riset dan inovasi sejak kelas 10.
"Program riset seperti ini kami mulai dari kelas 10, ada outdoor study, latihan dasar metodologi ilmiah, dan sains expo," ungkapnya.
Didik berujar, sejak kelas 10 para siswa dibiasakan untuk menulis ide secara ilmiah, baik dalam konteks individu atau kelompok.
"Kebetulan tim ini mengambil ide lingkungan, akhirnya kami diskusi dan cetuskan membuat inovasi penyelesaian limbah daun di sekolah itu," bebernya.
Menyoal tim Arkalya yang sudah masuk 25 besar, Didik mengaku bangga dan tidak terlalu fokus bahwa tim mereka harus juara dan masuk tiga besar.
"Saya beri pesan ke mereka. Hal yang penting itu berproses, kejujuran, pakai data, kalau juara atau medali itu bonus. Paling penting mereka berproses dan belajar," tandasnya. (iza)