JOGJA – SMKN 3 Jogja mengembangkan model pembelajaran baru berupa teaching factory (Tefa). Tujuannya mempersiapkan lulusan agar sesuai dengan kebutuhan industri.
Kepala Sekolah SMKN 3 Jogja Widada menjelaskan, Tefa adalah model pembelajaran yang mereplikasi konsep industri. Yakni mengintegrasikan pembelajaran berbasis produksi dan jasa dengan standarisasi industri.
"Konsep ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan industri," katanya pada Radar Jogja Senin (18/11/2024).
Dia mencontohkan, implementasi Tefa antara lain siswa difokuskan untuk mengerjakan atau membahas mata pelajaran tertentu dalam satu hari. "Biasanya tiap dua jam ganti pelajaran, ini akan kami fokuskan untuk belajar satu hari penuh selama enam jam secara teori dan praktik," ujarnya.
Teaching factory, lanjutnya, persis seperti dunia industri. “Dulu hanya diterangkan saja, tapi praktiknya minggu depan misalnya, ini kami fokuskan di hari yang sama," sambungnya.
Dia turut menyebutkan beberapa manfaat dari model pembelajaran Tefa. Yakni mampu meningkatkan kualitas pembelajaran agar sesuai dengan dunia industri, Meningkatkan soft skill dan hard skill di saat yang bersamaan, hingga memberi pengalaman belajar yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
"Penilaiannya kurang lebih praktik 70 persen dan 30 persen teori, walaupun pada pelaksanaannya tidak kaku seperti itu," ungkapnya.
Dalam praktiknya, model Tefa akan menerapkan beberapa komponen penting. Seperti berorientasi pada produk atau alat, hingga berlakunya jadwal pembelajaran secara blok. Penyusunan kelas akan didasari pada pola tertentu. Terdiri dari hari dan waktu pertemuan tiap kelompok kelas.
"Dengan begitu, guru nanti bisa lebih leluasa menyiapkan bahan ajar, strategi pembelajaran, sampai tahap penilaian," lontarnya.
Selain itu, siswa juga bisa mengasah banyak hal. Seperti kerja sama, leadership, administratif, manajemen waktu, dan berpikir kreatif.
Ketua Tefa SMKN 3 Jogja Winih Wicaksono menyebut, salah satu komponen penting yang wajib memahami konsep tersebut adalah para guru. "Sehingga kami kumpulkan seluruh guru, kami bagi sesuai penjurusan keahlian untuk ikut workshop Tefa ini," ujarnya.
Adanya model Tefa, diharapkan siswa menjadi lebih kompeten di masing-masing bidang. "Asumsinya, ketika seseorang mengerjakan hal yang sama berulang-ulang, mereka jadi lebih profesional," urainya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita