BANTUL - Dosen Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKIK UMY Ardi Pramono, menilai momentum Ramadan dimaknai bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi sebagai latihan pengendalian diri dan pembentukan karakter.
Dalam refleksinya, Ardi mengutip QS Al-Baqarah ayat 183 tentang kewajiban berpuasa bagi orang beriman agar mencapai derajat takwa.
Menurutnya, takwa tidak lahir semata dari ritual, tetapi dari perubahan sikap seperti kesabaran, disiplin, dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah.
“Jika latihan ini terus dibawa setelah Ramadan berakhir, maka puasa benar-benar membentuk pribadi yang lebih kuat,” ujarnya.
Ia menekankan, nilai puasa tidak bergantung pada apa yang terlihat oleh orang lain, melainkan pada kesungguhan yang dijaga secara konsisten.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak peran penting dijalankan tanpa sorotan.
Namun, justru karena pekerjaan dilakukan dengan benar, banyak hal dapat berjalan aman dan tertib.
Kondisi tersebut, kata dia, sangat nyata di lingkungan pelayanan kesehatan. Ada profesi dan sistem yang bekerja di balik layar untuk menjaga keselamatan dan mutu layanan, meski tidak selalu terlihat oleh pasien.
Peran itu menuntut ketelitian, kejujuran, serta komitmen tinggi.
Menurutnya, puasa mengajarkan nilai yang sejalan dengan itu, dan merupakan ibadah yang bersifat pribadi.
“Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang menjalankannya dengan sungguh-sungguh atau tidak, selain dirinya sendiri dan Allah SWT. Puasa melatih kejujuran dan niat yang lurus,” jelasnya.
Ardi juga mengingatkan hadis Nabi Muhammad SAW dalam HR Bukhari dan Muslim yang menegaskan bahwa nilai sebuah amal ditentukan oleh tujuan di baliknya, bukan oleh pengakuan dari luar.
Nilai bekerja dalam senyap ini juga relevan dalam pengembangan layanan kesehatan modern.
Terlebih, saat ini mulai tumbuh berbagai inisiatif yang berupaya memperbaiki mutu layanan melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, data, dan kolaborasi.
Banyak dari upaya ini tidak terlihat langsung oleh pasien, tetapi berperan penting dalam memastikan keputusan klinis yang lebih aman dan bertanggung jawab.
“Prinsipnya sama bekerja dengan benar, meskipun tidak selalu terlihat. Selama Ramadan, aktivitas tetap berjalan seperti biasa. Kita tetap bekerja, berinteraksi, dan mengambil keputusan. Rasa lapar dan lelah tidak seharusnya menjadi alasan untuk menurunkan kualitas kerja atau menurunkan kesabaran, tetapi justru menjadi wahana untuk latihan pengendalian diri,” katanya.
Bekerja tanpa terlihat orang lain, tidak ingin pujian, dan berpuasa memiliki kesamaan. Keduanya menuntut konsistensi, meskipun tidak selalu diawasi atau diapresiasi.
Nilai suatu peran tidak ditentukan oleh seberapa sering ia terlihat, tetapi oleh seberapa sungguh-sungguh ia dijalankan dengan niat yang benar.
Ramadan mengingatkan bahwa banyak hal penting dilakukan dalam senyap. Menjalankan amanah dengan baik, menjaga sikap, dan meluruskan niat, meskipun tidak diperhatikan orang lain, adalah bagian dari makna puasa.
Sikap inilah yang menjadi fondasi keikhlasan, baik dalam pekerjaan, pelayanan, maupun kehidupan sehari-hari. (*/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita