GUNUNGKIDUL - Rintik hujan turun membasahi halaman pondok di lereng perbukitan kapur Kalurahan Sumberwungu Kapanewon Tepus Gunungkidul.
Di pendapa kayu beratap limasan, puluhan santri duduk bersila. Kendati barisannya tak teratur, sebagian mereka sibuk membaca Alquran, lainnya menyimak dengan tenang.
Di tempat inilah, Ramadan bukan sekadar ritual tahunan. Bulan yang dipenuhi kesucian ini menjadi ruang terapi, katarsis, hingga belajar menata emosi.
Di Pondok Pesantren (Ponpes) Ainul Yakini, 239 santri putra dan putri menjalani ibadah puasa penuh.
Mereka adalah anak-anak berkebutuhan khusus, penyandang disabilitas mental, hingga individu dengan penyimpangan sosial yang dibina secara intensif. Ketiga kategori itu disebut dengan anak spesial.
Pengasuh pondok Fatmawati menyebut, Ramadan dijadikan sebagai momentum penguatan fisik dan mental anak-anak spesial.
“Semua santri berpuasa. Sahur juga ikut. Kecuali kelas anak-anak, puasanya setengah hari sebagai latihan menahan lapar,” ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan pesantren, Jumat (20/2/2026).
Di pondok ini, santri dibagi dalam tiga tipe pembinaan. Kelas serba bantu untuk anak-anak yang membutuhkan pendampingan penuh.
Kelas arahan bantu bagi remaja dengan pendampingan bertahap. Dan kelas remaja mandiri untuk santri yang sudah lebih stabil dan terarah.
Fatmawati bercerita pelan, tantangan anak-anak spesial ialah rasa lapar. Sebab, lapar kerap menjadi pemicu ekspresi tantrum.
Emosi santri mudah meledak ketika kebutuhan dasar terganggu. Namun, justru di situlah Fatmawati menjadikan puasa sebagai metode terapi.
“Puasa melatih mereka menahan diri. Bukan hanya menahan lapar, tapi juga menahan ucapan, pendengaran, penglihatan, dan hati. Dengan menahan itu, emosional santri semakin stabil,” jelas Fatmawati ketika ia didekati oleh salah satu santrinya.
Ia mencontohkan, beberapa santri yang sebelumnya mudah marah kini menunjukkan perubahan signifikan.
Kata dia, selama bulan Ramadan suasana pondok jauh lebih sabar, lebih tenang. Pola makan yang biasanya memicu hiperaktif, terutama makanan dengan zat aditif tertentu berkurang selama Ramadan.
Menurutnya, hal ini membuat tubuh anak-anak spesial di sini jauh lebih terkendali, emosi pun lebih terjaga.
“Bumbu kemasan itu sangat mudah memicu emosi anak-anak spesial di sini lebih emosional. Akhirnya tantrum, selama bulan puasa, ini lebih terkendali,” tuturnya.
Sejak berdiri pada 2025, pondok ini menjadikan Ramadan sebagai program terapi tahunan.
Jadwal ibadah disusun ketat namun adaptif. Salat lima waktu berjamaah, kajian sore menjelang berbuka, hingga buka puasa bersama menjadi rutinitas harian.
Di Ainul Yakin, yang paling khas adalah program “Qori 24 Jam”. Santri dijadwalkan membaca Alquran secara bergiliran tanpa henti selama Ramadan. Targetnya, membentuk kebiasaan spiritual yang konsisten.
“Kami ingin mereka belajar menjadi manusia yang baik, mulia. Tarawih kami satu juz setiap malam. Insyaallah satu bulan khatam melalui tarawih,” katanya.
Tak berhenti di situ saja, Fatmawati juga memastikan jika pondok tempatnya mengabdi selalu ada kajian mufradat selepas Subuh.
Kemudian, ketika senja kala sore hari menyingsing, kajian kembali digelar. Aktivitas spiritual itu dirancang sebagai terapi komprehensif, mulai dari melatih fisik lewat puasa, menata hati lewat zikir dan tilawah, serta memperkuat mental lewat kebersamaan.
Di pendapa, beberapa santri tampak tertidur sejenak di atas sajadah. Lainnya bersandar, memegang mushaf. Hujan masih begitu deras, tetapi suasana terasa hangat.
Tak ada ledakan emosi. Tak ada teriakan. Yang ada hanya ritme pelan pembinaan yang dijalani dengan sabar. Setiap agenda Ramadan, Fatmawati selalu memastikan agar puasa menjelma menjadi metode katarsis emosional.
“Ya, menahan lapar, menahan amarah, dan perlahan menata jiwa. Ini adalah proses penyembuhan, proses panjang yang tidak instan. Di balik keterbatasan mental para santri, ada harapan yang terus kami dipupuk,” ujarnya lirih. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita