MAGELANG - Ramadan menjadi bulan yang dinanti-nanti umat Islam. Di bulan ini, mereka berbondong-bondong mencari suntikan ilmu agama dari berbagai arah. Termasuk menghadiri pengajian, tablig akbar, hingga kuliah tujuh menit (kultum) dari para pendakwah.
Seorang pendakwah asal Magelang KH Muhammad Yusuf Chudlori atau akrab disapa Gus Yusuf juga kerap safari dari satu tempat ke tempat lain untuk mengisi pengajian. Namun selama Ramadan, Gus Yusuf memfokuskan diri untuk mengajar ribuan santrinya. Meski sesekali mengisi pengajian.
Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo itu mengatakan, ada sejumlah kegiatan rutin yang berlangsung di ponpesnya setiap Ramadan. Namun, bulan Ramadan ini dimanfaatkan oleh santri untuk persiapan tahun ajaran baru.
"Termasuk persiapan hafalan, seperti nazam, bait-bait alfiyah, (ilmu) saraf," katanya, Jumat (14/3).
Selain itu, para santri juga akan mengaji kitab-kitab tabaruk yang bisa khatam dalam kurun waktu kurang dari 20 hari. Seperti kitab Minahus Saniyah atau kitab yang membahas ilmu tasawuf. Lalu ada kitab Arbain Nawawi atau kitab yang memuat 42 hadits pilihan yang disusun oleh Imam Nawawi.
Kemudian dia juga mengajar kitab Akhlakul Banat yang membahas beberapa akhlak untuk diterapkan dalam kehidupan dan kitab-kitab lain. Masing-masing kitab akan diulas pada waktu tertentu. Entah setelah Subuh maupun usai salat Asar.
Bahkan, setiap mengajar kitab-kitab itu, selalu ditayangkan pada kanal Youtube-nya agar bisa disimak oleh masyarakat secara umum. Sebab pria 51 tahun itu memang fokus mengajar santrinya ketimbang mengisi pengajian di sejumlah tempat selama Ramadan.
Gus Yusuf menuturkan, selama Ramadan, para santrinya juga diminta untuk memperbanyak tadarus Alquran. Biasanya santri pemula akan membaca satu juz dalam satu hari. Sementara santri senior rerata membaca tiga hingga lima juz dalam satu hari.
"Kalau di pesantren tidak ada kultum. Ya, bareng sama ngaji (kitab) itu. Nggak tentu (mengisi kultum di masjid), saya lebih fokus di pesantren. Keluar (mengisi kultum) paling seminggu sekali," bebernya.
Dia menuturkan, bagi ponpes dan santri, Ramadan menjadi momentum untuk relaksasi dan mengistirahatkan diri. Karena kegiatan Ramadan itu hanya berlaku sampai 17 Ramadan. Setelah itu, para santri menunggu bulan itu agar bisa pulang ke kampung halamannya.
Baca Juga: Pemuda Bendungan Lor Bangunkan Sahur Dengan Musik Tek-Tokan Daripada Sound Horeg
Dia mengatakan, Ramadan tidak hanya menjadi momentum yang dinanti santri, tetapi juga umat Islam di seluruh dunia. Dia kerap memberikan pesan kepada santrinya untuk tidak menyia-nyiakan bulan Ramadan. Termasuk memperbaiki diri dan melangkah lebih baik lagi.
Menurutnya, Ramadan merupakan bulan spesial untuk me-restart kehidupan, menyusun ulang jadwal kesuksesan, dan meraih keberkahan. "Puasa itu ibadah yang sangat pribadi. Urusannya langsung antara hamba dan Tuhannya," lontar Gus Yusuf. (aya/laz)
Editor : Heru Pratomo