Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hampir 50 Persen Pemilih Jateng Anak Muda, Bawaslu Latih Anggota Pramuka Jadi Agen Pengawas Partisipatif

Naila Nihayah • Rabu, 10 Juni 2026 | 05:06 WIB
Bawaslu membentuk kader pengawas dari unsur pelajar melalui program Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P), Selasa (9/6).
Bawaslu membentuk kader pengawas dari unsur pelajar melalui program Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P), Selasa (9/6).

 

 

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Magelang membidik generasi muda untuk turut serta dalam mengawasi hajatan Pemilu 2029. Teranyar, bawaslu menyiapkan kader pengawas dari unsur pelajar melalui program Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P).

Sebanyak 40 pelajar dari empat SMA dilibatkan dalam pelatihan tersebut. Mereka merupakan anggota Gerakan Pramuka Saka Adhyasta Pemilu yang diproyeksikan menjadi agen pengawas partisipatif di lingkungan masing-masing.

Kepala Sekretariat Bawaslu Kabupaten Magelang Bambang Agus Setiyawan menyebut, program ini tidak sekadar pelatihan formal. Tetapi dirancang untuk membangun kapasitas sekaligus karakter pengawas pemilu sejak dini.

Baca Juga: Polisi Tangkap Makelar Pelarian Geng Vozter ke Safe House Cilacap, Ternyata Alumni dan Residivis Kasus Klitih 

"Tujuannya membentuk kemandirian dalam pengawasan partisipatif, sekaligus meningkatkan keterampilan teknis dan pemahaman kepemiluan," ujarnya di Ruang Bina Karya, kompleks Setda Kabupaten Magelang, Selasa (9/6).

Menurut Bambang, pendekatan ini penting mengingat pengawasan pemilu tidak lagi bisa sepenuhnya bertumpu pada lembaga formal. Keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dinilai menjadi kunci dalam menjaga integritas proses demokrasi.

Dia menjelaskan, program P2P merupakan pengembangan dari Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP) yang sebelumnya telah berjalan sejak masa pandemi. Kini sudah ratusan alumni yang masih aktif dalam berbagai kegiatan edukasi publik terkait kepemiluan.

Baca Juga: Harga MinyaKita Non Subsidi Naik, Pedagang Kulon Progo Kesulitan Mencari Minyak Subsidi

Senada, Ketua Bawaslu Kabupaten Magelang Muhammad Habib Saleh menilai, tantangan ke depan bukan hanya pada pelaksanaan teknis pemilu. Tetapi juga pada kualitas partisipasi masyarakat.

Dia menegaskan, kader pengawas partisipatif tidak boleh berhenti pada tataran pelatihan semata. Melainkan harus mampu memberikan dampak nyata di tengah masyarakat.

"Jangan hanya datang, ikut pelatihan, lalu selesai. Harus ada dampak. Harus bisa berfungsi di masyarakat," bebernya.

Baca Juga: Genjot Efektivitas, Guru Didorong Manfaatkan AI dalam Pembelajaran 

Habib juga menyoroti kemampuan analisis peserta yang mulai berkembang, terutama dalam mengaitkan materi pengawasan dengan kondisi riil di lapangan. Hal ini dinilai sebagai modal penting untuk membentuk pengawas yang tidak hanya memahami aturan, tetapi juga peka terhadap dinamika sosial.

Koordinator Divisi Pencegahan dan Partisipasi Masyarakat Bawaslu Jawa Tengah, Nur Kholiq menyebut, pemilu merupakan instrumen perubahan yang tidak bisa dilepaskan dari peran generasi muda. Sebab hampir 50 persen pemilih di Jawa Tengah adalah pemilih muda.

Baca Juga: Musim Depan PSIM Jogja Tetap Berkandang di SSA Bantul, Janjikan Lampu Lebih Terang

Dia menilai, pemuda memiliki modal sosial yang kuat, seperti semangat kerelawanan dan kedisiplinan, yang dapat diarahkan untuk mendukung pengawasan pemilu. Meski Pemilu 2029 masih beberapa tahun lagi, persiapan sebenarnya telah dimulai jauh sebelumnya.

"Bahkan, tahapan awal yang berkaitan dengan anggaran dan perencanaan sudah dijadwalkan berjalan mulai 2027," sebutnya. (aya)

Editor : Heru Pratomo
#pendidikan pengawas partisipatif #Kabupaten Magelang #pemilih pemula #Pramuka #bawaslu