KULON PROGO - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo baru saja meluncurkan 28 buku bahan ajar untuk jenjang SD dan SMP yang terintegrasikan dengan nilai-nilai kearifan lokal. Peluncuran dilakukan langsung oleh Bupati Kulon Progo Agung Setyawan.
Di depan para kepala sekolah SD dan SMP, Agung bukan hanya mengulas soal pentingnya kearifan lokal dalam muatan buku bahan ajar bagi dunia pendidikan. Namun juga memberikan sinyal bakal bertindak keras terhadap beberapa kepala sekolah. Khususnya yang masih mempertahankan simbol geblek renteng di sejumlah bangunan di sekolah tersebut.
Agung menuding geblek renteng sarat dengan muatan politis. Dia tak ingin siswa-siswa SD maupun SMP yang ada di bawah tanggung jawab Pemkab Kulon Progo ikut terpapar. Dia kemudian menyebut salah satu sekolah di daerah Kalurahan Margosari, Pengasih. Tepatnya, di dekat gedung IKIP PGRI Kulon Progo. Gapura di SD tersebut sampai sekarang masih terpampang simbol geblek renteng.
“Kalau itu memang ada kaitannya dengan tujuan politis, saya ganti kepala sekolahnya,” ancam Agung saat memberikan sambutan di Aula Adikarta Pemkab Kulon Progo pada (5/2) lalu.
Meski bupati merupakan jabatan politis, Agung tak mau tindakannya itu disebut sebagai kebijakan politis. Terutama saat menghapus geblek renteng. Selama setahun memerintah Kulon Progo, geblek renteng yang bertahun-tahun menjadi identitas batik pelajar dan ASN dihapus. Dilarang dipakai sebagai seragam resmi. Geblek renteng juga tak diizinkan terpampang di fasilitas-fasilitas publik. Mulai sekolah hingga gedung-gedung pemerintah.
Sebagaimana diketahui, geblek renteng merupakan karya yang diciptakan di era Bupati Hasto Wardoyo, pendahulu Agung. Kini Hasto menjabat wali kota Jogja. Ke depan, geblek renteng bakal benar-benar tinggal menjadi album kenangan. Masuk laci arsip Pemkab Kulon Progo.
Agung secara resmi mengganti geblek renteng dengan simbol Gunungan Binangun. Soal penggantian itu, bupati berlatar belakang pengusaha konstruksi ini berdalih jauh dari nilai-nilai politis. Alasannya, ingin mengembalikan marwah Kulon Progo. “Wajib hukumnya, warga DIY mengembalikan gunungan sebagai simbol," tegasnya.
Pria yang baru saja berulang tahun pada 2 Februari lalu mengklaim wilayah yang dipimpinnya merupakan satu-satunya daerah yang mengganti simbol gunungan. Itu tak terjadi di kabupaten dan kota lain se-DIY. “Kita mundur dari daerah lain,” sesalnya.
Bahkan, lanjutnya, setahun usai geblek renteng ditetapkan sebagai identitas daerah di era Hasto Wardoyo, Gubernur DIY Hamengku Buwono X seperti enggan datang ke Kulon Progo. “Tak pernah dikunjungi pimpinan provinsi, panutan kita,” ungkapnya.
Belajar dari pengalaman itu, Agung tak ingin meninggalkan legacy demi mendapatkan legitimasi tertentu. Doktor ilmu lingkungan UGM itu juga emoh meninggalkan warisan yang akan mempersulit penggantinya kelak.
Dia memaparkan warna Gunungan Binangun akan didominasi kuning gading pareanom. Warna hijaunya condong ke hijau Keraton Jogja. “Kuningnya kuning gading, bukan kuning warna partai,” terangnya tanpa menyebutkan nama parpol yang dimaksud. Nantinya ketentuan tentang penggunaan warna kuning gading pareanom itu di gedung pemerintahan, sekolah dan fasilitas umum akan diatur dengan surat edaran (SE).
Agung lagi-lagi berdalih apa yang dilakukan itu bukan politisasi. Dia kembali menyinggung keengganan HB X datang ke Kulon Progo. Gubernur yang juga raja Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat baru berkenan datang di masa Agung menjadi bupati. Itu ditandai dengan kehadirannya di sebuah acara di Hotel Novotel Ibis Kulon Progo.
Bupati yang mengantongi gelar magister manajemen (MM) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Janabadra, itu mengaku dapat memahami perasaan HB X. Menurut Agung, simbol Gunungan Binangun berasal dari pemberian raja yang bertakhta sejak 7 Maret 1989 itu “Beliau sengkel karena harusnya Gunungan Binangun dipertahankan. Bukan diganti,” kritiknya.
Agung mengaku sebagai bagian dari saksi sejarah lahirnya geblek renteng. Kala itu, mantan ketua Gapensi Kulon Progo itu berada belakang Hasto. Ikut mendukung. Bahkan pagar dua rumahnya berhias geblek renteng. “Setelah jadi bupati saya baru tahu, itu ternyata salah,” tuturnya.
Dalam pidatonya Agung kembali menyoal simbol geblek renteng yang masih ada di SDN Margosari. Dia mengaku setiap kali melewati depan sekolah itu hatinya dibuat marah. “Mangkel,” ceritanya. Dia pun mewanti-wanti agar simbol itu secepatnya diganti. Caranya dicat ulang. “Dikletek (dicopot, Red),” pintanya. Mendengar perintah itu, ada kepala sekolah yang merespons dengan kata siap. “Itu siap pindah atau siap diganti,” tanya Agung.
Di bagian lain, Agung sempat curhat saat menerapkan kebijakan mengganti seragam ASN dari coklat khaki menjadi biru muda setiap hari Selasa. Dia mengeluh kebijakan itu dinilai berbau politik. Digoreng karena dirinya disebut melakukan kebijakan biruisasi. Maklum, itu terkait dengan posisi Agung. Selain bupati, dia juga menjabat ketua DPW PAN DIY. Selama ini warna biru menjadi identitas PAN.
Seragam ASN biru, klaim Agung sudah lebih dulu di pakai di Pemprov DIY. Disusul Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Jogja. Tinggal Gunungkidul dan Kulon Progo yang belum menerapkan. Dia kembali mengulang dasar kebijakan yang dituangkan dalam perbup mendasarkan pada pergub DIY.
“Digoreng ke arah politis. Biruisasi,” keluhnya. Setelah bicara panjang lebar, Agung bertanya balik ke peserta acara. Para kepala sekolah ditanya apakah mereka memahami pidato yang disampaikannya atau tidak. “Paham mboten. Dong napa plong,” kali ini dengan nada bercanda.
Di sisi lain, aktivis kebudayaan Kulon Progo Imam Syafii mengingatkan, pentingnya para pemimpin daerah memahami makna jasmerah. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Imam bercerita saat Hasto Wardoyo menjadi bupati Kulon Progo periode 2011-2016 dan 2017-2019, dirinya kerap mengkritisi sejumlah kebijakan Hasto. Tanggapan Hasto terbuka dan siap dikritik. “Itulah gaya kepemimpinan yang punya kapasitas dalam memimpin,” ujar Imam.
Dia pun menyentil yang dulu kerjanya sering melobi, diuntungkan karena kebijakan Hasto dan akhirnya mendapatkan banyak manfaat saat menjadi ketua Gapensi, sekarang malah merusak semua karya monumental Hasto. “Ini yang membuat masyarakat gedhek-gedhek, mau tak percaya, tapi kok terjadi,” kata Imam sambil mengelus dada. (gas/kus/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita