RADAR JOGJA - Budiman Sudjatmiko sedang naik daun lagi. Mantan aktivis sekaligus politikus senior tanah air itu sedang hangat dibicarakan setelah mendeklarasikan dukunganbuntuk Prabowo Subianto sebagai Bacapres 2024. Padahal, dia adalah kader PDI Perjuangan yang mengusung Ganjar Pranowo.
Meski dituding membelot dari PDI Perjuangan, Budiman mengaku bahwa dirinya siap jika dijatuhi sanksi oleh PDI Perjuangan.
Menurutnya, keputusannya mendukung Prabowo adalah dilandasi urusan pribadi. Selain itu, dalam pandangannya, visi dan misi yang dibawa Prabowo sejalan dengan semangat para aktivis untuk membangun Indonesia.
Lantas, seperti apa perjalanan karir politik seorang Budiman Sudjatmiko?
Dikutip dari jawapos.com, Budiman Sudjatmiko merupakan politisi senior kelahiran Cilacap 10 Maret 1970. Ia menempuh pendidikan di SD Negeri Pengadilan 2 Bogor, SMP Negeri 1 Cilacap (1986), lalu SMA Negeri 5 Bogor dan SMA Muhammadiyah 1 Jogja atau sering disebut SMA Muhi Jogja (1989).
Ia sempat mengenyam bangku perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta, namun tak rampung. Sebab, kegiatannya sebagai aktivis membuatnya dikeluarkan dari kampus.
Di luar dunia perkuliahan, Budiman aktif sebagai community organizer yang berfokus pada pemberdayaan politik, organisasi, dan ekonomi di kalangan petani dan buruh. Ia bahkan sempat mendirikan sebuah partai bernama Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 1996 silam.
Baca Juga: Parkir Motor Rp 5 Ribu Bonus Air Mineral di Lapangan Denggung, Pungli atau Pemalakan?
Pendeklarasian partai di era Orde Baru kala itu, membuat Budiman dipenjara dan dijatuhi vonis penjara selama 13 tahun. Penyebabnya, ia diduga menjadi dalang dari insiden 28 Juli 1996 atau yang dalam sejarah dikenal sebagai peristiwa Sabtu Kelabu.
Dari hukuman 13 tahun penjara itu, Budiman hanya menjalani proses hukuman selama tiga tahun. Sebab, ia mendapatkan amnesti dari Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berkuasa kala itu.
Bebas dari penjara, Budiman rehat sejenak dari panggung politik Indonesia. Dia memilih melanjutkan pendidikan ilmu politik di Universitas London dan Master Hubungan Internasional di Universitas Cambridge, Inggris.
Rampung pendidikannya di luar negeri, Budiman pulang ke tanah air dan bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan pada 2004 hingga saat ini. Selama itu, ia sudah tiga kali mengajukan diri sebagai legislator.
Tahun 2009 dia terpilih sebagai DPR Dapil Jawa Tengah, dengan perolehan suara sebanyak 96.830 suara. Kemudian pada 2014, ia kembali terpilih dengan mengantongi sebanyak 68.861 suara. Namun pada 2019 lalu, ia gagal menjadi DPR Dapil Jawa Timur karena hanya mengantongi 48.806 suara saja.
Selama menjadi legislator, Budiman telah menghasilkan beberapa gebrakan, seperti mempelopori penyusunan Undang-Undang Desa dan pendirian Gerakan Inovator 4.0 Indonesia. Usulan Undang-Undang Desa yang diperjuangan Budiman, akhirnya dikabulkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Amanat Presiden (Ampres) RUU Desa pada 2012.
Baca Juga: Namanya Jian Ayune Sundul Langit, Putri Bupati Ponorogo yang Malu saat Akan Kuliah di UGM Jogja
Sementara Gerakan Inovator 4.0 Indonesia, dibuat oleh Budiman untuk mengumpulkan para ahli, akademisi, peneliti, seniman, dokter dan lainnya, untuk membuat sesuatu yang bisa mendorong kemajuan Indonesia.
Selain itu, Budiman juga aktif di sosial media Twitter, sekarang X. Ia juga pernah menulis dan menerbitkan buku berjudul Anak-Anak Revolusi pada 2012. Anak-Anak Revolusi merupakan buku tentang wajah Indonesia yang selama ini disaksikan oleh seorang Budiman Sudjatmiko.