RADAR JOGJA – Wisuda selesai, ijazah sudah di tangan. Namun, satu pertanyaan sering muncul setelahnya: “Sudah punya pengalaman kerja?” Bagi fresh graduate, memiliki gelar sarjana ternyata belum selalu cukup untuk menghadapi dunia profesional yang sesungguhnya.
Karena itu, pengalaman kerja menjadi bagian penting yang perlu mulai dibangun sejak awal. Salah satunya melalui program magang yang memberi kesempatan lulusan baru untuk merasakan langsung suasana dunia kerja.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) resmi memulai pelaksanaan Magang Nasional atau MagangHub 2026 Tahap 2 pada Senin (21/9). Program ini ditujukan bagi lulusan baru perguruan tinggi agar mereka mendapatkan pengalaman kerja sekaligus mengembangkan kompetensi sebelum masuk ke dunia kerja secara penuh.
Bagi Gen Z yang baru menyelesaikan kuliah, program seperti ini bukan hanya soal menambah satu baris pengalaman di curriculum vitae (CV). Lebih dari itu, magang dapat menjadi kesempatan untuk mengetahui seperti apa ritme kerja yang sebenarnya.
Selama kuliah, mahasiswa lebih banyak berhadapan dengan tugas, presentasi, organisasi, dan berbagai kegiatan akademik. Ketika masuk ke lingkungan profesional, situasinya bisa berbeda. Ada target yang harus dicapai, tenggat waktu yang perlu dipenuhi, komunikasi dengan rekan kerja, hingga tanggung jawab terhadap pekerjaan yang diberikan.
Baca Juga: DPRD Kulon Progo Minta Pemkab Jemput Bola Pastikan Bansos Tepat Sasaran
Hal-hal tersebut tidak selalu bisa dipelajari hanya dari ruang kelas.
Melalui magang, peserta dapat belajar menghadapi situasi kerja secara langsung. Mulai dari memahami instruksi, berdiskusi dengan rekan satu tim, berkomunikasi dengan mentor, mengatur waktu, sampai menyelesaikan pekerjaan sesuai tanggung jawab.
Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemnaker Darmawansyah mengatakan pemagangan diharapkan membantu lulusan baru mengembangkan kompetensi sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Program Magang Nasional 2026 Tahap 2 juga dirancang untuk memberikan pengalaman kerja selama enam bulan. Peserta akan mendapat bimbingan mentor, mengenal budaya kerja, mengasah kemampuan teknis maupun nonteknis, serta membangun portofolio dan jejaring profesional.
Baca Juga: Fokus Pemulihan Cedera, Jay Idzes Kirim Pesan Menyentuh untuk Timnas Indonesia
Bagi fresh graduate, pengalaman tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengenali kemampuan diri. Misalnya, seseorang yang awalnya hanya mengetahui pekerjaan tertentu dari media sosial atau perkuliahan akhirnya dapat melihat langsung bagaimana profesi tersebut dijalankan setiap hari.
Dari sana, peserta juga bisa mengetahui keterampilan apa yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.
Magang juga menjadi ruang untuk belajar menghadapi kesalahan. Ketika pekerjaan belum sesuai harapan, peserta dapat menerima masukan dan memperbaikinya. Pengalaman seperti ini menjadi bagian dari proses membangun kebiasaan profesional.
Jumlah kesempatan yang disediakan dalam program ini juga cukup besar. Magang Nasional 2026 Tahap 2 memiliki kuota 50 ribu peserta dan menjadi bagian dari target 150 ribu peserta program sepanjang 2026.
Meski begitu, mengikuti magang sebaiknya tidak hanya berorientasi pada sertifikat setelah program selesai. Peserta dapat memanfaatkan setiap tugas sebagai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang nantinya bisa digunakan saat melamar pekerjaan.
Baca Juga: Palmer, Rashford dan Mainoo Diprediksi Tidak akan Perkuat Inggris di Nations League, Penggantinya?
Bagi Gen Z yang baru memulai perjalanan karier, dunia kerja memang tidak selalu bisa langsung dipahami dalam satu langkah. Ada proses mencoba, belajar, mendapat masukan, hingga menemukan bidang yang paling sesuai.
Pada akhirnya, ijazah menjadi bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan. Namun, pengalaman, keterampilan, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi menjadi bekal lain yang terus dibangun setelahnya.
Magang Nasional pun dapat menjadi salah satu pintu bagi fresh graduate untuk berpindah dari dunia kampus menuju dunia profesional dengan pengalaman yang lebih nyata.
(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber