Museum Tak Lagi Identik dengan Kuno, Anak Muda Kini Cari Pengalaman yang Instagramable

Maria Margaretha Nirong Gedo • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 11:23 WIB
Pengunjung menikmati suasana salah satu museum di Yogyakarta. Museum kini terus berupaya menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif dan dekat dengan generasi muda.
Sumber foto: AI Generation
Pengunjung menikmati suasana salah satu museum di Yogyakarta. Museum kini terus berupaya menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif dan dekat dengan generasi muda. Sumber foto: AI Generation

 RADAR JOGJA – Mendengar kata museum, sebagian orang mungkin masih membayangkan ruangan yang penuh benda bersejarah, suasana hening, dan deretan koleksi yang hanya bisa dilihat dari balik kaca. Namun, gambaran tersebut perlahan mulai berubah.

Di Yogyakarta, museum tidak hanya menjadi tempat untuk mengenal sejarah dan budaya. Bagi sebagian anak muda, museum juga mulai dilihat sebagai pilihan untuk menghabiskan waktu, mencari pengalaman baru, hingga mendapatkan konten menarik untuk media sosial.

Berkunjung ke museum kini tidak selalu hanya soal membaca keterangan koleksi atau mendengarkan penjelasan pemandu. Pengalaman menikmati ruang, mengabadikan foto, mengikuti kegiatan interaktif, hingga membagikan kunjungan melalui media sosial ikut menjadi bagian dari cara baru menikmati museum.

Perubahan cara pengelolaan museum juga mulai terlihat. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta pada Agustus 2026 menegaskan bahwa museum perlu terus bertransformasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Museum tidak cukup hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga diharapkan menjadi ruang untuk belajar, berdialog, berkreasi, dan berinteraksi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa museum kini dituntut menghadirkan pengalaman yang lebih hidup. Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk membuat penyampaian informasi menjadi lebih menarik dan mudah diterima pengunjung.

Baca Juga: Tim SAR Perluas Pencarian Delapan Orang Hilang di Perairan Selat Sunda

Sebenarnya, gagasan tersebut bukan hal baru. Dinas Kebudayaan DIY sebelumnya juga mendorong museum agar mampu menghadirkan unsur edukasi sekaligus rekreasi. Digitalisasi, spot foto, storytelling, augmented reality, hingga pemanfaatan media sosial disebut sebagai sejumlah cara untuk membuat museum lebih dekat dengan generasi muda.

Media sosial kemudian menjadi salah satu pintu masuknya. Sebuah foto menarik dari ruang museum atau video singkat mengenai koleksi tertentu bisa membuat orang lain penasaran dan ikut memasukkan museum tersebut ke dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi.

Namun, menjadi menarik secara visual bukan berarti museum harus kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang edukasi. Justru tampilan yang lebih atraktif bisa menjadi awal bagi pengunjung untuk mengenal cerita di balik sebuah koleksi.

Upaya menghadirkan pengalaman yang lebih menyenangkan juga terlihat dalam berbagai kegiatan permuseuman di Jogja. Pada Februari 2026, misalnya, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menggelar program Wajib Kunjung Museum yang melibatkan pelajar. Selain tur edukatif, kegiatan tersebut dilengkapi dengan sesi pengayaan materi dan permainan edukatif sehingga peserta tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga berinteraksi dengan materi sejarah yang disampaikan.

Baca Juga: Edukasi Lewat Animasi: Upin dan Ipin Ikut Suarakan Kabut Asap

Kegiatan lain seperti Fun Walk Museum Tour juga memperlihatkan bahwa pengalaman mengunjungi museum bisa dikemas lebih santai. Peserta yang didominasi mahasiswa diajak berpindah dari satu museum ke museum lain sambil mengenal sejarah kawasan pusat Kota Yogyakarta. Kegiatan tersebut juga dilengkapi permainan interaktif sebagai bagian dari pengalaman belajar.

Bagi anak muda, cara seperti ini tentu terasa berbeda dibandingkan sekadar datang, melihat koleksi, lalu pulang. Ada pengalaman yang bisa dibagikan, cerita yang bisa dibawa pulang, sekaligus pengetahuan baru yang didapatkan.

Meski begitu, museum tetap perlu menjaga keseimbangan. Jangan sampai unsur Instagramable justru membuat pengunjung hanya sibuk mencari foto tanpa tertarik mengetahui cerita di baliknya.

Sebab, kekuatan utama museum tetap berada pada koleksi dan cerita yang tersimpan di dalamnya. Foto dan media sosial hanyalah salah satu cara untuk membuat cerita tersebut menjangkau lebih banyak orang.

Pada akhirnya, museum dan anak muda sebenarnya tidak berada di dua dunia yang berbeda. Museum memiliki cerita masa lalu, sementara generasi muda memiliki cara baru dalam menikmati dan membagikan pengalaman.

Baca Juga: Blue Lagoon Jogja, Hidden Gem Pemandian Air Jernih di Sleman yang Bikin Betah

Ketika keduanya dipertemukan dengan pendekatan yang tepat, museum tidak lagi sekadar tempat untuk melihat benda lama. Museum bisa menjadi ruang belajar, tempat rekreasi, ruang berkarya, sekaligus tempat menemukan pengalaman baru.

Bagi Jogja sebagai kota budaya dan kota pelajar, perubahan ini menjadi peluang untuk membuat cerita sejarah tetap hidup dan terus dikenal generasi berikutnya.

(Maria Margaretha Nirong Gedo)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
tidak membosankan museum modern Instagrammable museum kuno