MAGELANG - Pemkot Magelang mendorong bahasa Jawa kembali menjadi bagian dari keseharian siswa di lingkungan sekolah. Bukan sekadar untuk mempertahankan bahasa daerah, pembiasaan itu dinilai penting untuk menanamkan unggah-ungguh, etika, dan tata krama kepada generasi muda di tengah perubahan pola komunikasi.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengatakan, bahasa Jawa memiliki nilai pendidikan yang lebih luas daripada sekadar kemampuan berkomunikasi. Pilihan bahasa dan cara bertutur dalam budaya Jawa mengajarkan siswa bagaimana menempatkan diri serta menghormati orang lain.
"Pembelajaran bahasa dan tata krama Jawa tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan berbahasa, tetapi juga mengajarkan unggah-ungguh, etika, serta cara berinteraksi dengan orang lain," kata Damar di Aula Cendikia Disdikbud Kota Magelang, Senin (7/9).
Baca Juga: Warga Mulai Kesulitan Air Bersih, Polsek Salaman Ambilkan Air dari Sumber Mata Air di Wilayah Krasak
Menurut Damar, tantangan pelestarian bahasa Jawa bukan hanya bagaimana mengajarkannya sebagai materi pelajaran. Bahasa tersebut perlu digunakan dan dibiasakan agar siswa memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan tata krama.
Karena itu, guru menjadi satu kunci. Karena setiap hari siswa berinteraksi dengan guru dan melihat bagaimana mereka berbicara maupun bersikap. Keteladanan tersebut dinilai lebih efektif dalam membentuk kebiasaan dibandingkan sekadar memberikan teori.
Damar meminta keterampilan yang diperoleh guru melalui pawiyatan tidak berhenti pada kemampuan menjadi panatacara atau pamedhar sabda. Pengetahuan tersebut perlu dibawa ke lingkungan sekolah dan diterapkan dalam interaksi sehari-hari.
Baca Juga: HB X Minta Pengelola MBG Perketat Penyimpanan Bahan Makanan untuk Cegah Keracunan
"Bahasa Jawa dapat digunakan secara tepat dalam keseharian, sementara unggah-ungguh dibiasakan melalui praktik dan keteladanan," ujarnya.
Kepala Disdikbud Kota Magelang Nurwiyono Slamet Nugroho mengatakan, guru yang mengikuti pelatihan diharapkan mampu meneruskan pengetahuan kepada siswa sekaligus membuat pembiasaan yang konkret.
"Para guru diharapkan dapat menyusun dan menerapkan program pembiasaan berbahasa Jawa di sekolah, setidaknya satu hari dalam seminggu," paparnya.
Baca Juga: Penerbangan YIA-CGK Kembali Normal usai Ditutup Imbas Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Dengan pola tersebut, bahasa Jawa diharapkan tidak hanya muncul ketika ada pelajaran bahasa daerah, upacara, atau kegiatan kebudayaan.
Penggunaannya dapat masuk dalam komunikasi sehari-hari di sekolah. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo