GUNUNGKIDUL - Di balik megahnya laju teknologi, ada jerit sunyi yang sering kali luput dari pandangan. Di dalam ruang-ruang kelas, ejekan ringan atau komentar pedas di media sosial kerap meninggalkan luka mendalam bagi remaja. Menyikapi kenyataan pahit tersebut, sebuah langkah hangat bertajuk sikomhati.id hadir menyapa para siswa di SMK YPKK Tepus, Gunungkidul.
Inovasi digital ini lahir dari buah pemikiran Prof Dr Puji Lestari SIP MSi, pakar komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta. Melalui riset terapan yang didukung DPPM Kemendiktisaintek 2026 bersama Balai Tekkomdik DIY dan SMAN 2 Playen, inovasi ini memadukan teknologi dengan sentuhan kemanusiaan.
Konsep utama yang diusung bukanlah kecanggihan algoritma semata, melainkan pengolahan rasa. Pendekatan ini mengajak generasi muda menyelami empat pilar penting: olah pikir, olah rasa, empati mendalam, serta kedamaian hati dalam setiap interaksi harian.
Perjalanan mengasah empati ini tentu tak selalu mulus tanpa kendala. Saat tahapan awal atau pre-test dimulai bersama tim ahli, sinyal internet di kawasan pesisir tersebut sempat terputus dan menghambat akses para peserta.
Namun, hambatan teknis itu tak menyurutkan semangat para pendidik dan peserta didik. Bersama jajaran guru Bimbingan Konseling (BK) serta wali kelas, seluruh kegiatan dengan cepat dialihkan ke ruang perpustakaan sekolah yang memiliki koneksi lebih stabil.
Baca Juga: Gempa Tektonik Magnitudo 5,3 Guncang Cilacap, Getaran Terasa hingga Jogja
Guna memperkuat pemahaman siswa, Dani Fadillah PhD, akademisi dari UAD, turut membagikan wawasan berharga. Ia membedah secara mendalam bahaya laten dari aksi perundungan fisik maupun perundungan siber (cyberbullying).
Kehadiran platform ini pun langsung menyentuh sisi emosional para siswa di lapangan. Salah satu fitur yang paling menyita perhatian dan menyentuh nurani adalah layanan konseling secara anonim.
Bagi Lia, siswi kelas X Tata Busana, fitur rahasia ini bagaikan penolong di tengah kegelapan. Fasilitas tersebut memberi ruang aman bagi murid-murid yang selama ini merasa takut atau malu untuk mencurahkan isi hatinya secara langsung.
Sementara itu, Mahya, rekan seangkatan Lia, merasakan perubahan sudut pandang yang cukup besar. Ia menyadari bahwa tindakan sederhana sehari-hari ternyata berhubungan erat dengan cara seseorang mengelola emosi dan menjaga perasaan sesama.
Baca Juga: BRI Super League Hari Ini, PSS Sleman Incar Tiga Poin di Dipta
Dalam sesi tatap muka yang hangat, Puji turut mengingatkan peserta akan bahaya penyakit hati yang sering merusak pertemanan. Puji mengajak para siswa membersihkan "sampah hati", seperti rasa iri, dengki, dan egoisme, lalu mengubahnya menjadi energi positif untuk mengukir prestasi.
Suasana haru dan terbuka kian terasa saat sesi berbagi berlangsung interaktif. Banyak murid mulai menyadari bahwa candaan fisik yang selama ini dianggap biasa ternyata sanggup menggores trauma mendalam pada diri temannya.
Langkah mulia ini selaras dengan regulasi Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 mengenai Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Melalui ujian kompetensi berjenjang, dari tahap Tahu, Tanggap, hingga Tangguh, pembentukan karakter berempati ini diharapkan dapat terus berlanjut secara konsisten.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja