KEBUMEN - Polres Kebumen membentengi pelajar dari informasi bohong atau hoaks lewat literasi artificial intelligence (AI) atau kecedasan buatan. Hampir setipa pekan para trainer dari kepolisian datang ke sekolah berbeda untuk memberikan edukasi tentang AI kepada para pelajar.
Gerakan yang dimulai pada awal Agustus lalu ini telah menyasar tiga sekolah di Kebumen. Dalam pelaksanaanya, literasi AI dipandu langsung personel polisi yang mahir di bidang teknologi digital. Mereka sebelumnya juga telah mengikuti pelatihan intensif khusus soal AI, sebelum akhirnya ditugaskan turun ke sekolah.
"Pelajar harus memahami bahwa tidak semua informasi yang mereka lihat di media sosial adalah benar," ucapnya, Jumat (28/8/2026).
Baca Juga: Satres Narkoba Polres Bantul Tangkap Tiga Tersangka Kasus Sabu Berantai dalam Sehari
Selain materi penggunaan AI untuk membendung hoaks, selama kegiatan para pelajar juga diberikan pemahaman mengenali deepfake. Yakni, informasi manipulatif yang diproduksi melalui teknologi bernasis AI. Lebih dari itu pelajar juga dibekali etika dalam penggunaan AI serta teknik meng-input perintah atau prompt AI.
Kapolres Kebumen AKBP I Putu Bagus Krisna mengatakan, kehadiran AI ibarat pisau bermata dua. Perkembangan teknologi tersebut dapat membawa manfaat besar, namun jika tidak digunakan secara hati-hati juga berpotensi merugikan. Oleh karena itu, butuh kesadaran masyarakat dalam penggunaan dan pemanfaatan AI.
Massifnya penggunaan AI secara otomatis dinilai menghadirkan tantangan baru, terutama dalam menghadapi derasnya informasi di ruang digital. Gerakan literasi AI inilah yang diharapkan sebagai bekal pelajar memiliki kemampuan dalam menyortir informasi yang mereka temukan.
Baca Juga: Anggaran Turun Bertahap, Sleman Diperkirakan Baru Miliki Taman Budaya pada 2031
Melalui program tersebut pelajar juga dituntut tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu memahami risiko di balik pesatnya teknologi.
"Apalagi sekarang AI dapat digunakan untuk membuat foto, video, suara, maupun tulisan yang terlihat sangat meyakinkan," sambungnya.
Menurutnya, kemampuan penggunaan teknologi hari ini harus diimbangi kemampuan berpikir kritis. Pelajar juga perlu membiasakan diri memeriksa sumber, membandingkan informasi sekaligus memastikan kebenaran. Hal ini penting agar ruang digital menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi masyarakat.
"Jangan hanya karena kontennya terlihat nyata kemudian langsung dipercaya. Di era AI, harus semakin kritis dan selektif," ujarnya.
Baca Juga: Meski Sudah Jalani Enam Laga Uji Coba, Van Gastel Akui PR bagi Skuad PSIM Jogja Belum Usai
Per pekan ini Polres Kebumen telah menyambangi tiga sekolah. Masing-masing SMA Negeri Pejagoan, SMK Negeri 2 Kebumen dan SMA Negeri 1 Kebumen. Gerakan literasi AI ini akan terus bergulir dengan menyesuaikan kebutuhan. Lewat capaian jumlah pelajar yang mengikuti literasi diharapkan dapat menekan peredaran informasi hoaks di berbagai kanal media sosial.
Pelajar SMA Negeri 1 Kebumen Rifaldi menyambut baik pelatihan AI tersebut. Menurut dia, edukasi mengenai AI sangat penting karena informasi hoaks kini semakin mudah dibuat dengan bantuan teknologi.
Dia menilai media sosial saat ini menjadi ruang terbuka bagi penyebaran informasi. Tanpa kemampuan menyaring informasi, pelajar dapat dengan mudah menerima bahkan ikut menyebarkan konten yang belum tentu benar.
"Jadi, kami sebagai pelajar harus lebih selektif dalam menerima informasi, terutama di media sosial," ujarnya. (fid/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita