Oleh: Yunita Wulan Sari
KULON PROGO – Memahami hak dan prosedur dalam jaminan kesehatan sosial menjadi bagian penting bagi masyarakat lanjut usia (lansia). Bukan hanya agar dapat memperoleh layanan kesehatan, tetapi juga supaya lansia dan keluarganya mampu mengambil keputusan serta mengakses layanan kesehatan secara lebih mandiri.
Hal tersebut menjadi perhatian Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui program penguatan literasi jaminan kesehatan sosial bagi orang tua, lansia, dan kader Posyandu Lansia di Dusun Pendem, Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo.
Program tersebut tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan pada Kamis, 30 Juli 2026. Tim PkM juga melakukan penguatan kapasitas kader Posyandu Lansia melalui penyediaan buku atau media edukasi mengenai jaminan kesehatan sosial yang dapat digunakan secara berkelanjutan dalam kegiatan Posyandu Lansia.
Dengan demikian, pengetahuan mengenai jaminan kesehatan sosial diharapkan tidak hanya diterima oleh peserta dalam satu kali pertemuan, tetapi dapat terus diteruskan oleh kader kepada masyarakat.
Baca Juga: Kuatkan Peran Relawan, Libatkan Peranan Media Massa
Dari Sosialisasi Menuju Literasi Berkelanjutan
Kegiatan pada 30 Juli 2026 diikuti masyarakat lanjut usia, orang tua, serta kader Posyandu Lansia Dusun Pendem. Kegiatan dikemas secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, serta pembahasan berbagai situasi yang sering dihadapi masyarakat ketika memanfaatkan layanan kesehatan.
Dua narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Drs. Danardono, MPH., Ph.D., dosen Universitas Gadjah Mada, dan Agus Trisetya Nugraha, S.E., Kepala Bagian Mutu Layanan Kepesertaan BPJS Kesehatan Cabang Sleman.
Materi yang disampaikan antara lain mengenai jaminan kesehatan sosial, hak dan kewajiban peserta, pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan, alur pelayanan, serta mekanisme rujukan.
Pendekatan tersebut dipilih karena persoalan yang dihadapi lansia dalam mengakses layanan kesehatan tidak selalu berkaitan dengan kepesertaan. Sebagian masyarakat telah memiliki jaminan kesehatan, tetapi belum tentu memahami bagaimana menggunakan hak tersebut secara tepat.
Kader Posyandu Jadi Penggerak Literasi
Tim PkM tidak hanya memberikan pengetahuan kepada lansia, tetapi juga membekali kader agar mampu menjadi sumber informasi dan pendamping bagi masyarakat setelah kegiatan sosialisasi selesai.
Kader memiliki posisi strategis karena berinteraksi secara rutin dengan lansia dalam kegiatan Posyandu. Kedekatan tersebut dapat menjadi modal penting untuk menyampaikan informasi mengenai jaminan kesehatan sosial dengan bahasa yang lebih sederhana dan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.
Untuk memperkuat peran tersebut, Tim PkM menyediakan buku literasi jaminan kesehatan sosial sebagai media edukasi bagi kader dan masyarakat.
Buku tersebut dirancang sebagai bahan bacaan praktis dengan bahasa yang sederhana sehingga dapat digunakan dalam kegiatan Posyandu Lansia maupun ketika kader memberikan pendampingan kepada warga.
Baca Juga: Kuatkan Peran Relawan, Libatkan Peranan Media Massa
Keberadaan buku ini menjadi bagian penting dari program karena memungkinkan proses edukasi berlangsung secara lebih berkelanjutan. Kader tidak harus mengandalkan materi yang diperoleh saat pelatihan, tetapi memiliki bahan yang dapat dibaca kembali dan digunakan ketika memberikan penjelasan kepada lansia.
Dengan pola tersebut, Posyandu Lansia diharapkan tidak hanya menjadi tempat pemeriksaan kesehatan secara rutin, tetapi juga berkembang sebagai ruang edukasi masyarakat mengenai kesehatan dan jaminan sosial.
Kolaborasi UGM dan BPJS Kesehatan
Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemangku kepentingan dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.
Keterlibatan BPJS Kesehatan dalam kegiatan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi langsung mengenai penyelenggaraan jaminan kesehatan. Hal tersebut sekaligus membantu memastikan informasi mengenai hak dan kewajiban peserta, alur pelayanan, serta pemanfaatan layanan kesehatan disampaikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan model edukasi yang tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat untuk memahami dan memanfaatkan informasi secara mandiri.
Baca Juga: Brighton 4-0 Aston Villa, Brace Hinshelwood Warnai Kemenangan The Seagulls
Program penguatan literasi jaminan kesehatan sosial tersebut merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun pendanaan 2026 yang didanai melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Melalui program tersebut, UGM berupaya menghadirkan pengabdian yang tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan, tetapi meninggalkan pengetahuan, media edukasi, dan kapasitas kader yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat.
Dengan demikian, literasi jaminan kesehatan sosial diharapkan dapat tumbuh sebagai bagian dari aktivitas Posyandu Lansia sehari-hari, sehingga masyarakat semakin memahami hak dan kewajibannya serta mampu mengakses layanan kesehatan secara lebih tepat dan mandiri.
Editor : Bahana.